The 18th Long Road To Java : Remidial Tour (3)

Etape 3 : Jembatan Merah Plaza – Bungurasih – Arjosari – Klojen

 

07.20

Dengan sepeda motor, Agus dan saya mengitari Tugu Pahlawan untuk kemudian menuju Jembatan Merah Plaza. Sebenarnya Stasiun Semut dan Jembatan Merah Plaza tidak terlampau jauh jaraknya. Hanya saja, adanya sistem lalu lintas satu arah membuat anda yang menggunakan kendaraan bermotor harus mengitari Tugu Pahlawan jika menuju kesana. Jembatan Merah Plaza (JMP) sendiri adalah sebuah pusat perbelanjaan yang juga terdapat terminal angkutan ‘Lyn’ dan Bus Kota, meskipun faktanya untuk Bis Kota yang tersedia hanyalah jalur lambat di jalan Rajawali, persisnya di gedung Internatio, untuk berhenti sejenak menaik-turunkan penumpang sambil menunggu jam berangkat, tidak seperti Lyn yang masuk ke kawasan JMP. Menilik dari sejarahnya ternyata kawasan JMP ini pernah menjadi terminal bus di Surabaya dengan nama Terminal Jayengrono, mengikuti nama taman disana (seperti halnya Tirtonadi di Solo), yang kemudian pindah ke Joyoboyo, dan akhirnya Bungurasih.

Sampai di JMP nampak ada 2 bis kota yang sedang menunggu antrian. Paling belakang adalah Bis Kota AC AKAS P3 tujuan Sidoarjo, sedangkan yang di depan adalah bis yang akan saya tumpangi : Estraa Mandiri P5 JMP – Bungurasih via Tol. Agus tentu tak bisa berlama-lama menemani saya karena dia harus segera kembali ke Semut untuk menjemput Bulik, kemudian berangkat ke Ngagel, sedangkan saya masih enggan untuk langsung naik ke P5, dengan asumsi karena sudah lama ngetem, biasanya bangku depan sudah terisi.

Tapi karena sepertinya tidak ada tanda-tanda bis P5 berikutnya akan datang untuk ‘menyundul’, maka naiklah saya menuju Bis yang kali ini bersih tanpa iklan. Ternyata bis masih kosong, dan sepertinya saya adalah penumpang pertama yang naik dari JMP. 5 menit kemudian..dengan tambahan 1 penumpang lagi, Bis dijalankan oleh bapak pramudi, sementara kondektur dari pintu belakang berteriak di sepanjang tepian Kalimas

“Bungur..Langsung..Daeng..Bungur..Bungur..”

‘Kupang mas?’ tanya seorang mbak di dekat viaduk Pahlawan

“Gak mbak..langsung Tol – Medaeng”, balas kondektur

Bus kembali bergerak menuju Tugu Pahlawan dengan tambahan 3 penumpang. Bunyi mesin depan ala Nissan Diesel CB nyaring seiring bus menyusuri Pasar Turi – Pasar Loak dan akhirnya berhenti sejenak jelang tol Dupak. Sedikit menengok ke belakang tidak begitu banyak penumpang kali ini. Jam tanggung, apalagi rute ini terbilang pendek untuk ‘nyeser’ penumpang nya, karena langsung masuk tol dan keluarnya tidak jauh dari tujuan akhir.

SM 1SM 2

Nampaknya bus sudah disundul oleh bus lainnya, Estraa Mandiri dengan banyak hiasan boneka di kaca depan segera masuk ke lintasan Tol Surabaya. Di lintasan ini, kondektur segera menarik ongkoas Rp 6000 untuk sekali perjalanan. Raungan Nissan CB semakin menjadi-jadi seiring dengan lancarnya tol arah Waru, berkebalikan dengan arah Dupak yang cenderung ramai. Asik di jalur kanan, raungan mesin mulai mengendur karena bus berbelok ke kiri..yak sudah sampai lagi di simpang tol Waru. Sempat menurunkan penumpang di jalan keluar tol, Bus memasuki wilayah Medaeng, dan kondektur kembali ke pintu, ada 3 orang yang turun disini. Bus kembali melaju dan kemudian masuk ke jalur kedatangan dalam kota di Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo.

Ini adalah kali ke 3 (atau kali ke 2 jika yang tadi pagi tidak dihitung) saya berkunjung di Bungurasih. Kunjungan pertama di 2014 lalu memang kurang berkesan. Pertama, karena saya masuk diantar menggunakan sepeda motor (plus si Agus kala itu kena tilang lantaran ngelawan arus di kolong jembatan Waru..dan belom punya SIM C pula); Kedua, waktu itu saya datang di Malam Hari; Ketiga, terminal belum berfungsi dengan maksimal karena pembangunan nya masih terhambat.

Kali ini, saya berkesempatan untuk merasakan, seperti apa Purabaya baru yang katanya lebih baik dari Pulogebang. Perlahan saya masuk sambil observasi, dimulut kedatangan penumpang ada beberapa orang berseragam PO, tetapi cenderung pasif. Masih agak kedalam..sepertinya ada barisan loket-loket untuk bis jarak jauh atau bis malam. Kemudian saya masuk ke bangunan baru dan naik ke lantai dua yang terhubung dengan skybridge menuju masing-masing jalur keberangkatan. Dan ternyata disanalah para calo bersemangat untuk mencari penumpang. Namun ada yg istimewa, ketika dirasa calo sudah cukup gaduh, maka ada petugas yang meniup peluit, mungkin kode agar para calo ‘kasih kendor dikit’ untuk calon penumpang.

SM 3

Saya duduk sejenak di ruang tunggu, karena ada ransum dari Bulik yang masih menunggu disantap untuk sarapan pagi. Ah, rupanya beliau sudah hapal dengan kesenangan keponakannya. Jika dulu saya dijamu makan malam dengan Nasi Goreng Surabaya yang merah itu, maka kali ini ada Nasi Bebek Madura lengkap dengan lalap dan otak-otak. Selesai menyantap, saya mencari tempat sampah sambil mencari posisi jalur bis yang akan menjadi tujuan saya selanjutnya agar tidak tertahan para calo : Malang – Ekonomi/Ekonomi AC.

Saya segera menemukan jalur keberangkatan bis…

…dan mendapati disana terdapat 2 unit TENTREM Puma Maxx ATB tengah di jalur keberangkatan. Saya segera kembali untuk mengambil tas dan bergegas turun ke jalur Malang ATB. Melihat Maxx pertama sudah mulai terisi penumpang, saya mulai memperlambat langkah untuk menunggu waktu bis kedua. Maxx pertama berangkat disundul Maxx kedua. Saya segera naik untuk mengambil kursi pertama, yang percuma juga karena terdapat sekat antara kabin penumpang dan kabin depan. Saya turun lagi untuk mengabadikan bus yang akan mengantar saya ke Malang. Tertulis di kaca depan adalah “MBALELO”

SM 4SM 5

Kembali ke kursi depan, nampak seorang ibu-ibu yang duduk disebelah. OK. Jam 9 pagi, Waktu Mbalelo di Bungurasih sudah habis. Melajulah Mbalelo meninggalkan Bungur secara perlahan sambil berharap ada penumpang tercecer disepanjang Bungur-Tol Medaeng.

SM 6

Jelang naik ke Tol Waru, terlihat sosok nano-nano dengan balutan karoseri buatan Ungaran dengan stiker EURO 5 hinggap di jendela : Pahala Kencana Jakarta – Surabaya – Malang yang baru saja keluar tol dan mengarah ke Bungurasih. Waduh..baru masuk Surabaya. Padahal saat 7528 US mundur dan berangkat dari Pulogebang, si EURO 5 ini baru aja naik ke terminal keberangkatan Pulogebang, informasinya sih bis itu berangkatnya jam 3 sore….

Kembali ke lintasan Mbalelo, jalan Tol Surabaya – Porong pagi itu cukup padat kedua arah, Dari arah berlawanan bus-bus Surabayaan mendominasi lalu lintas, sementara Mbalelo kali ini minim sekali perlawanan dari bus-bus kearah timur, bahkan termasuk Patas sekalipun.  Kepadatan jalan tol membuat Mbalelo melipir melalui bahu jalan sambil menyalak berkali kali agar diberikan kesempatan jalan. Jadi ini yang menyebabkan si Panda sering lewat bahu..dan berujung pada terjungkalnya Bis Panda di sepanjang tol ini

Lepas gerbang tol Sidoarjo, ada ijo-ijo melintas di kanan jalan. Ternyata si Gunung Harta Malang – Bandung baru melintas. Lumayan nih bakal ada…lho kok tambah jauh? Wah..ketinggalan ini mah. Saya lupa kalo sejatinya Mbalelo adalah bis ATB alias AC Tarip Biasa alias Ekonomi. Jadi ya jalannya nggak ngebut-ngebut amat.

Memutar di Porong dan belok tajam kearah arteri, nampak GH Bandung tertahan di Lampu Merah. Kesempatan bagi Mbalelo untuk mendekat. Lampu Hijau menyala..GH Bandung melaju..dan Mbalelo..malah nyeser penumpang. Jauh lagi jarak antara GH Bandung dan Mbalelo, dan makin menjauh selepas Jembatan Kali Porong, karena GH Bandung kembali masuk Tol menuju Pandaan, sedangkan Mbalelo kembali menyusuri Japanan – Gempol – Pandaan.

Penumpang mulai bertambah di jalur ini, sampai kemudian bus berbelok menuju terminal Pandaan. Di terminal ini ibu yang disebelah mencoba membuka percakapan..

“Mas nya turun dimana nanti?”

Saya turun di Jembatan Arjosari. Ibu?

“Saya mau ke Kepanjen”

Oh berarti nanti duluan saya bu

“Saya baru pertama ini..kalau mau ke Kepanjen turun di terminal ya?”

…ii..iya bu, turun di Terminal aja. Nanti sambung angkutan lagi disitu

Ibu ini nggak tau kalau saya juga baru pertama kali ke Malang lewat jalur Surabaya. Jadi di hotseat kali ini ditempati oleh 2 orang yang baru pertama kali ke arah Arjosari naek Bus. Bus kembali melaju ke selatan. Disinilah Mbalelo mulai berkejaran disela-sela truk-truk yang mendominasi perjalanan dengan napas yang terengah-engah. Hanya itu saja yang menarik perhatian dalam perjalanan ini, selain stiker “Armada Jamnas Bismania Community 2014” yang tertempel di pintu pembatas kabin pengemudi dan penumpang, dan juga pilar-pilar beton pembangunan Tol Pandaan – Malang yang memotong Jalan Raya Pandaan – Malang.

SM 7

Pintu Perlintasan KA Karangsono, Pasuruan dilewati, menandakan sebentar lagi akan memasuki kawasan Sengon, yang besok akan menjadi tujuan utama Tur kali ini. Pandangan fokus kearah kanan..dan akhirnya ketemu juga jalan yang akan dilalui. Mbalelo kembali bergerak perlahan saat berbelok di Purwosari. Titik pertemuan antara Jalur Surabaya – Malang dan Pasuruan – Surabaya.

Setelah kembali melewati pilar proyek Tol Pandaan-Malang, perlahan-lahan nampak sebuah jembatan tinggi dan meliuk kekanan, sementara di sebelah kanan nampak terlihat jalur rel Bangil – Malang. Yup, itulah jembatan Lawang yang menandakan anda sudah tiba di wilayah Kabupaten Malang. Meskipun demikian, tujuan akhir yaitu jembatan Arjosari masih sangat jauh, masih harus melewati Singosari dan Karanglo. Setelah menurunkan penumpang di Pasar Lawang, Mbalelo kembali melaju meskipun terhambat kepadatan lalu lintas. Bahkan sang pramudi sempat marah-marah ke seorang pengatur lalin lantaran ada truk yang mengalami masalah, bukannya diatur supaya dipindahkan ke pinggir malah memilih untuk mengatur lalu lintas dari tengah jalan.

Lepas Lawang, masuk daerah Singosari, tempat dimana salah satu karoseri legendaris Morodadi Prima berdiri. Lagi-lagi lalu lintas melambat didaerah pasar Singosari yang berdekatan dengan kawasan stasiun dan tentunya perlintasan kereta api. Sesudah palang kereta, sang ibu disebelah saya pindah ke bangku 3 yang ditinggalkan penumpang yang turun di Singosari. Sementara saya sudah bersiap-siap akan turun, dengan patokan lampu merah Karanglo dan Adi Putro.

Dari jauh sudah terlihat spanduk-spanduk Adi Putro, sebuah Karoseri yang terkenal di era modern ini dengan varian Jetbusnya. OK, waktunya saya pindah ke kabin depan.

“Turun mana mas?”

Itu pak.. ****mart jembatan

Sekitar jam 11 siang, Mbalelo segera berhenti di minimarket sebelom jembatan. Turun disini,dan Mbalelo terus melanjutkan perjalanan ke Arjosari. Sesuai saran Rezha, dari sini naik kendaraan daring saja. Sesuatu yang agak kurang sreg bagi saya tapi akhirnya saya pakai juga daripada bingung dan mengejar waktu juga. Kejutan terjadi saat menunggu mobil daring: Pahala Kencana EURO 5 yang tadi papasan di Tol Medaeng, baru lewat dari arah Surabaya menuju Malang! Waduh lumayan lama juga itu waktu tempuhnya.

Sebuah Grand Livina putih pun datang menjemput, hanya mobil daring yang menyambar pesanan saya, karena yang roda dua posisinya jauh. Nggak apa-apa sih kebetulan juga bawa ransel gede. Dalam cuaca Malang yang mendung-mendung berangin, meluncurlah Livina putih ke tujuan selanjutnya : Pattimura

“Liburan ya,Pak?”

Iya pak

“Mau Liburan ke Bali? Naik Bis?”

Lha saya baru nyampe pak..mau liburan disini :p

Si bapak pikir saya baru akan berlibur ke Bali. Tidak salah juga sih kalau melihat potongan saya yang hari itu bercelana jeans dan kemeja pantai. Menurut penuturan si bapak, cuaca Malang akhir-akhir ini memang mendung. Namun tenang saja karena memang seperti itu : mendung tapi berangin kencang sehingga tidak sampai turun hujan.

Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk sampai di Pattimura, tepatnya kantor perwakilan Gunung Harta. Setelah melakukan reservasi, saya bersantai sejenak di pool sambil mengamati bis yang akan berangkat hari itu.

“Jakarta Kampung Rambutan..Eksekutif 1..Eksekutif 1..”

“Mas..Jakarta?”

Ndak pak, saya nggak hari ini

Ternyata bis Jakarta hari itu sudah bersiap-siap untuk lepas landas. Sebenarnya bersantainya saya disitu tidak lain hanya untuk menunggu waktu check-in yang berlaku mulai jam 1 siang. Melihat arloji yang menunjukkan pukul 12 siang, saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat menginap di Hotel Morina. Memang saat itu jam 12 siang. Tengah hari. Tetapi tidak ada terik matahari yang terasa, hanya semilir angin yang terus bertiup. Untungnya ketika sampai di hotel, saya sudah bisa melakukan check-in. Akhirnya perjalanan hari ini selesai. Ransel pun sudah lepas dari punggung ini yang minta diluruskan sejenak

….

Mas..kalau disini ada layanan sewa sepeda motor nggak ya?

“Wah maaf mas..kalau sepeda motor belum ada. Sementara roda empat saja…”

Waduh..trus besok gimana?

Bersambung

Iklan

The 18th Long Road To Java : Remidial Tour (2)

Etape 2 : Waru – Surabaya Kota / Semut

Etape 2

04.15

Turun dari jembatan penyebrangan Bungurasih, 2 angkutan umum sedang menunggu penumpang kearah Sidoarjo : Lyn dan Mikrobus.

Tapi kali ini bukan kendaraan itu yang akan dicoba. Terus jalan menuju ke Stasiun Waru yang..wow..sudah ramai oleh penumpang yang tengah menunggu..sepertinya kalau jam segini adalah KA Probowangi jurusan Banyuwangi. Agak mengintip ke dalam stasiun…lho loketnya yang mana? Oh ternyata di luar.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya di Surabaya ini adalah masih beroperasinya KRD Shinko sebagai armada KRD Komuter Surabaya – Porong. Dulu di tahun 2014, saya gagal untuk mencoba layanan kereta Komuter ini, hanya bisa mengabadikan KRD ini saat berangkat dari Waru untuk perjalanan terakhir ke Surabaya.

Dan sekarang, KRD Shinko di Surabaya ini sudah semakin …

bisa dibilang tersingkir. Sebagian besar rangkaian nya sudah digunakan sebagai proyek CSR berupa Railclinic dan Raillibrary. Iya. Kereta klinik dan Pustaka itu dibuat dari modifikasi KRD Shinko yang sudah tua dan..ironisnya..masih dibutuhkan dan diandalkan untuk angkutan komuter. Sayangnya, sampai tulisan ini dibuat, setelah KRD Shinko diambil mereka belum menggantikannya dengan kereta apapun untuk beroperasi di koridor itu.

Mas..kalo beli KRD Komuter disini ya?

“Tujuan mana pak?”

Surabaya Kota

“Iya pak disini…5000 rupiah”

…KRD kan? Bukan Tumapel?

“Bukan pak..KRD..”

Saya membeli tiket dulu karena berdasarkan pengalaman, di luar Jabodetabek, pembelian kereta lokal masih di jatah dan tidak praktis. Saya harus memastikan kereta yang akan dinaikin adalah KRD karena tepat di belakang KRD akan melintas KA Tumapel yang juga bertujuan akhir Surabaya. Masih ada waktu senggang, saya kembali ke minimarket sebelah stasiun sekedar untuk beli roti dan susu untuk pengganjal perut pagi itu, sekalian berkabar ke rumah bahwa saya sudah sampai di Surabaya.

Selain menjajal transportasi massal di Surabaya, etape ke 2 ini juga membawa misi untuk mengantarkan barang titipan ke Bulek saya di Kapas Baru. Supaya lebih praktis dan gak harus buru-buru nyamperin ke Bungur, disepakati bahwa kami akan bertemu di Stasiun Semut saat KRD tiba.

Kembali dari Minimarket, penumpang di dalam stasiun berkurang, ternyata Probowangi sudah berlalu dan mereka sekarang adalah penumpang KA Penataran tujuan Malang – Blitar. Tidak lama kemudian Penataran sampai dan berangkat kembali. Setelah Penataran berangkat, waktu berjalan begitu cepat. Sambil mengisi ulang baterai ponsel, perlahan matahari meninggi di Surabaya. Para pekerja sudah mulai beraktivitas. Di seberang jalan, bis-bis kota Surabaya dengan reklame ‘endemik’ melintas buru-buru mengantar penumpang ke pusat kota dan pusat industri. Kenapa saya bilang reklame nya endemik, karena hampir sebagian besar reklame nya tidak ditemukan di bis-bis kota ditempat lain, contohnya reklame iklan barang-barang plastik atau sendal..

KRD 1

“Jalur 2 dari selatan akan masuk KA Komuter tujuan Surabaya Kota”

Waduh..langsung diumumin gak pake panggilan boarding..

Buru-buru cabut colokan ponsel, sementara PKD pemeriksa karcis baru kembali dari dalam. Segera masuk antrian sambil menyiapkan ponsel untuk dokumentasi. Bersiap di peron 2..dari kejauhan muncul sosok yang sudah lama saya kenal dengan dasi kupu-kupu nya yang kini di cat serupa dengan warna kereta nya.

KRD Komuter Surabaya Porong ini agak lebih pendek dari sebelumnya. Kali ini dilayani oleh 3 rangkaian kereta atau 1 setengah set KRD (1 Set KRD Shinko terdiri dari 2 kereta). “Krisis” sarana kereta komuter di Surabaya membuat beberapa KRD sejenis dikirim dari tempat lain ke Surabaya. Dalam rangkaian KRD kali ini, hanya 1 yang merupakan rangkaian dari Dipo Induk Sidotopo / SDT (Surabaya), sementara 2 lainnya adalah asistensi milik Dipo Kereta Solo Balapan (SLO). Melihat kedalam kereta, agak terkejut karena kondisi kereta yang termasuk penuh. Padahal beberapa publikasi menyatakan kereta komuter Surabaya kurang diminati disana. Namun pemandangan menyatakan lain, entah karena kondisi kereta yang memang pendek atau memang animo masyarakat mulai membaik.

KRD 2

Setelah berhenti lama untuk bersilang dengan KA Bima, KA 276 Porong – Surabaya Kota melanjutkan perjalanan. Deru ala mesin hidraulik dan suara semboyan 35 yang khas sangat mengingatkan ketika KRD Shinko masih berdinas sebagai KRD Purwakarta – Jakarta. Hal yang membedakan dengan kala itu adalah suasana interior kereta yang kini lebih baik, dan pintu yang mudah ditutup – sesuai dengan SPM dimana saat berjalan pintu kereta harus ditutup – meskipun aslinya pintu dioperasikan secara hidraulik. Saat melintas di halte – halte seperti Kertomenanggal, Jemursari, Margorejo, aktivitas penumpang yang turun – naik memang tidak begitu banyak. Sepertinya memang penumpang terkonsentrasi ke stasiun-stasiun besar.

KRD 3

Benar saja, saat KRD sampai di Wonokromo, perlahan kepadatan kereta mulai berkurang. Cukup banyak penumpang yang turun disini. Satu hal yang tidak jauh berbeda dengan KRL Komuter di Jabodetabek, jika di Jabodetabek ada rombongan penumpang heboh yang dikenal dengan sebutan Rombongan Lenong, maka disini juga ada Rombongan Ludruk, rombongan penumpang langganan yang biasanya berkumpul di pojokan dan ngobrol ngalor ngidul dengan suara kencang. Sama aja..

Halte Ngagel juga sama dengan halte-halte lainnya, minim aktivitas. Ketika sampai di Surabaya Gubeng, barulah kereta benar-benar kosong. Meskipun tujuan akhir kereta ini di Surabaya Kota atau Semut, penumpang KRD SuPor ini rata-rata bertujuan akhir Gubeng. Sangat wajar mengingat Gubeng terletak di pusat kota. Kereta yang kosong ditambah waktu berhenti yang lama, memberikan waktu yang pas untuk menjelajah seluruh KRD.

KRD 4

Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa KRD terdiri dari unit kereta SLO dan SDT, ternyata dari 3 rangkaian kereta tersebut, 3-3 nya memiliki interior yang berbeda :

  1. K2-38221 SLO, Kereta ex Prambanan Express kelas bisnis (K2) dengan interior bangku berhadapan, namun model kursi seperti bus ekonomi : jok busa dengan leher tinggi. Livery selendang abu-abu dengan pintu berwarna sama
  2. K3-38701 SDT, Kereta asli rangkaian Komuter kelas ekonomi (K3), dengan interior bangku berjajar, kursi fiberglass, kipas model tutup seperti KRL ekonomi buatan INKA. Livery selendang abu-abu namun pintu berwarna oranye
  3. K2-38208 SLO, Kereta ex Prambanan Express kelas bisnis (K2) dengan interior bangku asli khas KRD Shinko : berhadapan dengan jok busa dan papan besi. Livery kuning abu-abu

KRD melanjutkan perjalanan ke Surabaya Kota. Berjalan agak kencang dan guncangan makin terasa karena kondisi kereta yang kosong. Tidak butuh waktu lama dari Gubeng, Kereta perlahan memasuki area Surabaya Kota. Melewati beberapa kereta yang parkir dan bangunan lama Stasiun Surabaya Kota yang masih dalam perbaikan dan entah kapan dibuka kembali.

KRD 5

Kurang lebih 30 menit dari Waru, sampailah saya di Surabaya Kota. Stasiun yang terkungkung oleh bangunan perkantoran yang modern…dimasa nya. Meskipun tujuan akhir, KRD tidak parkir disini, KRD melanjutkan perjalanan pulang menuju Dipo Sidotopo dan beristirahat sampai keberangkatan berikutnya siang hari nanti. Ya. Saat ini KRD SuPor hanya memiliki 3x perjalanan Surabaya-Porong p/p, itu pun perjalanan yang pertama tidak maksimal untuk mengantar penumpang.

Saya segera keluar bertemu Bulek Jum dan Agus yang bersiap untuk bekerja di Ngagel. Paket kiriman dari Bogor segera bertukar dengan paket Ransum asli dari Surabaya. Setelah ngobrol sebentar, kami berpisah kembali karena Bulek dan Agus harus segera kembali ke tempat kerja, sedangkan saya harus kembali ke Bungurasih untuk melanjutkan perjalanan ke Malang. Begitulah : Muter-muter

Bulek menunggu di Surabaya Kota, sementara Agus mengantar saya mengitari Tugu Pahlawan menuju tujuan selanjutnya : Jembatan Merah Plaza

bersambung

The 18th Long Road To Java : Remidial Tour (1)

20507082_10211130992803041_8396232278364735006_o

Ini adalah 1 unit bis milik PO Akas Asri, bagian dari grup AKAS, sebuah nama besar di dunia transportasi darat di Jawa Timur. Melayani trayek Jakarta – Jember, bis ini jadi perwakilan grup AKAS di sebelah barat pulau Jawa. Melayani kelas eksekutif, bis ini bisa dibilang nyaris tak pernah sepi akan penumpang, baik yang perjalanan penuh sampai Jember atau turun di kota-kota antara.

Apa yang menyebabkan bis ini muncul di awal tulisan ini?

Karena semua cerita kali ini berawal dari Bis ini

Jauh ketika masih kuliah di Rawamangun (dan tentunya main ke Terminal Rawamangun), Bis Akas Asri ini cukup menarik perhatian. Dengan bodi Travego dan jok tebal yang terlihat dari luar, sangat memancing untuk mencoba nya. Sampai akhirnya layanan bis AKAP dipindah dari Rawamangun ke Pulo Gebang, keinginan mencobanya kembali datang. Cari info sana – sini sampai nyamperin bis nya saat persiapan parkir di terminal, terjawab sudah penasaran bahwa bis ini bisa turun di Surabaya meskipun tidak masuk Bungurasih (karena memang trayeknya tidak masuk Surabaya).

Sekarang di Surabaya nya mau ngapain aja? Karena jarak kali ini jauh nggak mungkin pulang balik kayak ke Solo (ke Solo pulang balik aja dibilang Kentir..gimana Surabaya?). Enaknya sih di Surabaya nyobain dulu bis Surabaya – Malang p/p trus pulangnya naik Bis Tronton…

….

…ah kenapa nggak sekalian bablasin Malang aja ye? Kan Bis Tronton juga berangkatnya dari Malang, dan biasanya malah gak masuk Bungurasih. Yaudahlah tujuan nya digeser sejauh 96 KM kearah selatan. Jadi di Malang ini juga sekalian hunting kereta api, napak tilas karoseri, dan tentunya ya piknik.

Terus kenapa namanya Remidial Tour?

Remidial berarti perbaikan. Kunjungan kali ini sekaligus kunjungan perbaikan dari kunjungan sebelumnya, dimana di Surabaya (2014) gagal mencoba moda transportasi umum karena kemana-mana naik motor. Sedangkan ke Malang (2015) gagal untuk hunting kereta api karena memang jadwal tur nya adalah tur untuk wisatawan pada umumnya (baca : tempat wisata, bukan rel kereta atau terminal)

Perjalanan kali ini terbagi kedalam 5 babak yang dibagi sesuai dengan etape perjalanan kali ini :

Etape 1 : Pulogebang – Waru

Etape 2 : Waru – Surabaya Kota / Semut

Etape 3 : Jembatan Merah Plaza – Bungurasih – Arjosari – Klojen

Etape 4 : Klojen – Karanglo – Sengonagung – Singosari – Pasar Besar

Etape 5 : Klojen – Bulak Kapal


 

Etape 1 : Pulogebang – Waru

 

Hari pertama dari cuti 3 hari yang diajukan. Turing kali ini menjadi turing pertama yang benar-benar diawali dari Terminal Pulo Gebang (Waktu LRTJ edisi kemaren Cuma mampir). Karena akses nya yang cukup rumit, terpaksa harus mengandalkan taksi menuju kesana. Ternyata prediksi meleset, lalu lintas tol siang eh pagi itu cukup lancar sehingga Jatiasih – Pulo gebang cukup ditempuh 30 menit saja. Masih ada tenggang waktu 3 jam dari keberangkatan bis.

Belakangan setelah terminal ini aktif melayani penumpang antar kota, muncul keluhan bahwa banyak calo-calo yang meresahkan calon penumpang. Seolah-olah seluruh calo preman eks terminal Pulo gadung pindah semua kesana, bahkan ada yg membandingkan dengan Terminal Rawamangun yang waktu masih beroperasi dirasa sangat nyaman. Benarkah seperti itu Pulo Gebang saat ini?

Saya bisa katakan : YA.  Saat turun dari taksi, dan mengambil ransel, seketika 3 calo berseragam PO ternama menghampiri, dan langsung saya bilang ‘sudah punya tiket’. Naik ke lantai 2 untuk laporan, ada 1 calo lagi yang mencoba..kali ini masih ngotot dan bilang ‘naik apa mas?’. Saya nengok dan menatap muka nya sekilas lalu kembali jalan kearah loket Akas Asri. Ini berbeda ketika saya beberapa kali bersama Ricky Uwedhan (Kali ini dia nggak ikut) ke lokasi yang sama, dimana sambutan calo cukup dingin. Kenapa? Karena saya Cuma bawa tas selempang, bukan Ransel.

Disana pak Nanang selaku mandor langsung mengenali dan mengambil manifes penumpang hari itu. “oh iki..sing Suroboyo..”. Hari ini sepertinya separuh bus telah terisi. “Iya mas…1 B ada isinya. Bis nya nanti ya jam 12..itu masih dibawah”. Saya langsung pamit untuk nunggu di ruang tunggu. Terminal Pulogebang di jam 10 pagi selain di dominasi oleh penumpang bus antar kota jarak dekat, juga terdapat penumpang bus yang bertujuan Madura dan sebagian Sumatera, yang memang selaku masih berangkat dari Rawamangun juga sudah siap di waktu-waktu seperti ini.

Kurang lebih jam 12, muncul lah Akas Asri dari bawah menuju ke parkiran nomor 12. N 7528 US dengan model Travego Jetbus buatan Adi Putro. Agak lega juga ketika kru mengatakan bus ini bisa turun di Bundaran Waru, jadi tidak perlu turun di pinggiran tol Medaeng, seperti yang tertulis di Tiket. Setidaknya ada 2 orang yang nggak sampe Jember. Pertama saya, kedua bapak setelah saya, yang sepertinya akan turun di Pandaan. Bangku pertama langsung diamankan dengan ransel. Sembari menunggu jam berangkat, turun lagi untuk mengabadikan bis ini. Terlihat penumpang sudah memadati bus. Daripada –daripada..kembali ke 1 A untuk sekedar menegaskan posisi tempat duduk.

12376723024_5c1a9ed531_b

Dari jaman Terminal Rawamangun lama…

20160213_111757

..Sampe Rawamangun direnovasi dan ditutup antar kota nya…

AA 2

..dan akhirnya naik juga dari Pulo Gebang

Tepat jam 1 siang, Driver 1 memundurkan N 7528 US dari parkiran..dan Akas Asri segera meluncur turun ke Tol Lingkar Luar menuju Surabaya – Bangil – Probolinggo – Jember. Berlari santai di JORR, masih pemanasan. Kru segera membagikan panganan untuk para penumpang. Sederhana saja seperti PO Raya kemarin : 1 Kotak terdiri atas AMDK Gelas dan Sebuah…aa…Roti Kacang Hijau. Bergizi

Akas 1

Atur posisi

Merayap-merayap bus memasuki Tol Cikampek yang sedang dalam pembangunan. Disini driver terus mencari celah agar bisa terus berjalan. Sebetulnya pembangunan tol layang Cikampek ini tidak akan mengakibatkan kemacetan parah..asalkan penyempitan jalan nya terus merata. Penyempitan yang menyebar di beberapa titik (lebar-sempit-lebar-sempit) membuat kemacetan menjadi semakin merata. Dan ini membuat saya ngantuk karena tidak ada tontonan, sedangkan roti kacang hijau dan AMDK gelas sudah tandas….

Akas 4

Tiba-tiba bus terasa berbelok ke kiri..dan keluar di..hah Cikopo? Waduh..lewat pantura lama nih? Lepas gerbang tol bus disambut dengan pedagang asongan yang bersiap minta dibukakan pintu, namun kru tetap bergeming. Ternyata bus keluar di Cikopo hanya untuk sekedar nge-Pom alias isi BBM. Bus nyolar..kru beli tahu goreng..dan pedagang asongan naik turun menjajakan dagangan nya.

Akas 5

Akas 6

Ngisi dulu

Kurang lebih 15 menit, bus kembali ke Cikopo dan masuk kembali ke tol Cipali, yang segera disambut oleh…Tunggal Dara Putra (TDP). Ya, jam-jam setengah 3 sore seperti ini adalah waktunya bus-bus Wonogiren angkatan siang keluar. Didepan TDP ada satu unit Putera Mulya (PUMAS) Merah. Cukup lama bermain-main dengan TDP sebelum akhirnya dibalap juga setelah Kalijati. Belum sempat ditempel, PUMAS terpaksa harus menyingkir dari lintasan karena sudah berada di wilayah KM 102 : TDP dan PUMAS masuk rumah makan, bergabung dengan barisan Agra Mas yang sudah berjejer rapih.

Akas 8Akas 10Akas 11

Wonogiren sudah menyingkir..maka lagi-lagi perjalanan ini tidak ada tontonan. Hanya bis-bis Cirebonan saja yang ikut lari-larian sampe Tol Palimanan.

Akas 9

Makan Tahu Bersama

Di Kanci – Pejagan, ternyata masih bisa mengejar unit Karina jurusan Madura yang..memang jalan nya santai. Aspal yang baru dan lalu lintas yang belum padat membuat driver semakin melaju, apalagi ada ajakan agar bis bisa berangkat dari rumah makan jam 5 sore. Bus segera keluar di Pejagan, namun lalu lintas Pejagan yang penuh aktivitas masyarakat membuat bus hati-hati berjalan.

Akas 12Akas 13

Jam 16.45 bus berhenti untuk servis makan di RM Kedung Roso, meleset dari target 16.30. Jam tanggung sih..makan siang kesorean..makan malam kepagian. Sebenernya menu di Kedung Roso ini cukup banyak untuk ukuran servis makan AKAP. Menu yang diambil adalah Nasi + Bihun Goreng + Tumis Tahu + Capcay Jawa (pake Cakwe) + Ayam Goreng ‘Fitness’…plus teh tawar. Rasa? Yah apa yang anda bisa harapkan dari servis makan di wilayah pantura barat ini..bahkan Tumis Tahu di Indorasa terasa lebih baik dari yang ada disini..sampe bingung ini sebenernya pake kecap apa bumbu apaan….

30 menit sudah cukup untuk istirahat, makan, plus buang air. 7528 US kembali melanjutkan perjalanan, kali ini kemudi beralih ke driver 2 yang berperawakan lebih muda. Belok ke Pantura, seketika tangan nya sibuk mengambil flashdisk dan menyalakan audio. Kemudian…

..RINDU BERGELORAAAH….RESAH GELISAH NAFAS CINTAAA….BIARPUN SERIBU LUKAAA…TAK BISA MENGHAPUS CINTAAAAAA….

Naah…ini baru bis malam. Belum lengkap kalo nggak ada alunan lagu-lagu lawas. Diiringi suara Inka Christie, 7528 US dengan gesit melaju sambil menghindar dari para penglaju roda dua yang baru selesai beraktivitas, entah itu kerja kantor, nyawah, atau sekolah. Jelang Brebes, ternyata driver mengarahkan untuk masuk lagi ke tol via Brebes Barat untuk menghindari kawasan kota Brebes. Dan ternyata alunan lagu lawas diakhiri, karena ternyata playlist berikutnya dangdut semua, dan driver 2 langsung nyabut flashdisk nya “..sssss..ah..kok dangdut meneh

Akas 16

Driver 2

 

Akas 17

Brebes Barat – Timur dilahap dengan singkat. Begitu turun dari fly over rel Brexit…itu bis didepan kayak kenal..lah ini TDP yang tadi. Tempel lagi, tapi kepadatan kota Tegal di sore hari membuat 7528 hanya bisa menempel TDP sampai lampu merah Pacific Mall. Sambil menunggu lampu hijau, driver nampak melihat situasi jalan..sepertinya akan ada manuver..

Akas 18

E…ketemu lagi..

Akas 19

 

begitu lampu menyala hijau, TDP terus melaju..diikuti oleh…

Lah…

7528 US motong jalan ternyata, belok kiri lewat SMP Pius :p

Wah seru nih, beneran nggak mau kalah dari TDP. Begitu sampai di simpangan jalan utama Pantura Tegal, dan benar saja..7528 US berhasil menyalip TDP..namun itu hanya sebentar saja, karena TDP kembali menempel di lampu merah Pasar Sore. Ckckck..

Akas 20

Perhatikan kaca spion kanan

Lepas tikungan Coyo, TDP ditinggalkan begitu saja. 7528 US melaju sambil melewati Madu Kismo Maduraan yang tadi berangkat jam 12. Sementara penumpang di 1 B udah tidur pulas dengan posisi yang gak karuan. Mata udah mulai berat, kayaknya menarik nih klo liat pas lagi jalan di Pantura Jatim yang jalur nya sempit. Tapi dari kejauhan…ada 2 bis yang lagi lari-larian : paling depan ada PK Nusgem Maduraan diikuti si merah Medali Mas setra Cirebon-Malang. Aduh mau tidur malah dikasih tontonan.

Abis ngebalap Medali Mas, 7528 US pantang menyerah terus ngebut di tikungan lingkar Pemalang. Tiba-tiba penumpang 1 B krasak-krusuk..sepertinya sibuk mencari kantong kresek…dan…yak dia jackpot saudara penonton..duh baru tontonan segitu udah blar blaar….

Si PK ini emang bener-bener susah ditempel. Udah kena lampu merah Comal pun masih juga gak kekejar, sampe akhirnya masuk Pekalongan. Disini lagi-lagi driver mengambil jalan pintas lewat Kauman, nggak lewat Ponolawen. Cerdas..memotong waktu. Lepas dari Pekalongan, karena udah masuk alas roban, waktunya tidur pules..baru merem kerasa bis ngerem dan berhenti, tetapi driver nggak turun, malah jalan ke belakang tapi nggak ada bunyi pintu kebuka. Nengok keluar, lho udah di Alas Roban baru. Ternyata driver nya kebelet. Gak sampe 5 menit driver balik terus jalan lagi sambil cengengesan “bakulan’e opo gak sambat kae..mandek kok ra mudun” (itu warung kesel paling, berenti kok gak turun) :p

Setelah itu perjalanan didominasi dengan tidur ayam, karena memang udah apal di jalan pantura Batang – Semarang.

Tidur…bangun-bangun lagi belok di Tol Krapyak

Tidur lagi..bangun-bangun lagi belok di Unisula Terboyo

Tidur lagi..bangun-bangun Demak kota

Tidur lagi..bangun udah di Lingkar Kudus. Disini 7528 US selap selip diantara truk truk besar. Tiba-tiba ada isyarat lampu..wuzz masuk dari kanan ada si biru Jaya Utama bumel tujuan Surabaya dengan lincah meninggalkan 7528 US di Pantura. Liat Jaya Utama di pantura Kudus jadi mengingatkan momen lebaran 21 tahun yang lalu. Entah gimana ceritanya di musim lebaran itu, Sekeluarga dateng ke Pulogadung dan belom memesan tiket bus karena sebelumnya konsentrasi di tiket kereta. Alih-alih kehabisan Dali Mas yang langsung Bojonegoro, tiba-tiba Bokap ditawarin Jaya Utama jurusan Surabaya-Malang, dan diyakinkan keneknya untuk turun di Jembatan Babat. Jadilah kami semua mudik dengan Bus berwarna putih strip biru yang belakangan baru saya ketahui bermodel Patriot buatan Morodadi Prima. Jalan jam 4 Sore, mendarat mulus jam setengah 6 pagi di Babat.

16464651_145698185944337_4529342248298479616_n

Jaya Utama 21 Tahun Yang Lalu (http://www.pictaram.eu/user/4611569200)

Terbangun lagi, entah ini di kota mana, sudah jam setengah 12 malam sambil melihat tulisan di jendela kiri “Bumi Dampo Awang”, OK..udah sampe Rembang. Ternyata itu Jaya Utama masih ditempel aja dari jauh nggak dapet-dapet juga dari tadi. Tidur lagi ah, biar kebangun di lintas Babat-Gresik.

Mata kembali terbuka saat melihat pandangan kedepan mulai sepi dan gelap. Jalan yang dilalui mejadi 2 lajur saja. Jaya Utama dan bahkan kendaraan lain sudah tidak terlihat. 7528 US semakin giras di lintasan. Saya sambil memandang arah kemudi..oh sudah berganti Driver pertama lagi. Berarti sudah lewat Tuban, tapi ini dimana? Kok nggak keliatan jalan kereta ya? Oh mungkin masih di Tuban – Babat. Kembali mencoba untuk mengais sisa-sisa waktu tidur.

Kayaknya batere udah cukup lah nggak usah di isi lagi. Akhirnya memilih duduk sambil ngucek-ngucek mata dan berusaha fokus ini dimana kok jalannya masih kecil. Sampai kemudian samar-samar terlihat sebuah rambu berwarna biru..

“JALAN TOL HANYA UNTUK KENDARAAN BERMOTOR RODA EMPAT ATAU LEBIH”

Hah? *ngucek2 mata

Belom fokus, tiba-tiba bus berbelok kanan..dan kru ngomong ke driver “..nanti mampir Bundaran Waru ya. Turun pertama..di Bundaran Waru”

ENG ING ENG

Lah? Kok udah Tol Surabaya? Kapan lewat Babat? Eh tapi beneran lewat Babat nih? Kok Tol nya belok Kanan? Kalo lewat Babat kan belok kiri. Belom habis rasa bingung saat bis memasuki Tol Manyar, begitu liat jam..

Ebuset 3.12 AM ??

Waduh beneran Selamat Subuh Surabaya ini, tapi berdasarkan pengalaman, Surabaya adalah kota yang tak pernah mati. Masih ada kehidupan walaupun tidak berkeliaran. Tapi selama didalam bis hanya bisa berharap pas turun nanti nggak kenapa-kenapa..atau lebih tepatnya nggak disamperin ojek atau becak..karena emang nggak mau naik itu.

Akas 21

Di Tol Surabaya bis nggak Cuma melaju santai, ada Panda..entah itu Restu atau Sinar Mandiri Mulia dan Jaya Utama Patas Ultima dilibas di Tandes Timur. Memperhatikan urutan exit ramp yang dilalui..waduh pendek juga Tol Surabaya ini. “Semanggi” Dupak..Banyu urip..Satelit..Gunung Sari..dan akhirnya Waru. Bus akhirnya exit Waru dan meluncur masuk Kota…em..Perbatasan Sidoarjo-Surabaya. Dalam bayangan saya, bis akan berputar di putaran besar, melalui CITO dan kemudian balik arah ke Waru. SALAH, sebelum bundaran ada puteran langsung menuju Medaeng, Bis berputar disitu sambil bergerak menepi, dan berhenti di gang perkampungan Bungurasih. Gak masalah sih sebenernya, karena dari awal sudah dibicarakan baik ke Pak Nanang ataupun Kru “Yang penting bisa turun di Bungurasih”.

Akas 22

3.44 AM sampailah saya di Surabaya coret alias Bungurasih. Setelah menurunkan saya dan tak lupa saya berterima kasih, 7528 US kembali melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir Jember. Saya dengan modal nekad, mengalungkan tas selempang dan menggendong Ransel berjalan menelusuri perkampungan Bungurasih. Sambil melihat GPS dan berjalan menuju arah terminal yang memang ‘bolong’ alias terbuka dengan pemukiman, memang benar disini terasa sekali “nggak pernah mati” nya. Banyak warung-warung yang masih buka 24 jam. Sampai juga di area terminal, karena kebelet terpaksa naik ke selasar atas terminal untuk mencari toilet (dan ternyata yang bawah juga dibuka!), namun karena semua jamban nya jongkok, akhirnya hanya buang air kecil saja. Sambil mengeluarkan uang jasa, saya bertanya untuk memastikan arah keluar ke arah Stasiun Waru untuk etape berikutnya

Akas 23

Perkampungan Bungurasih

Mas..kalo arah keluar ke stasiun Waru lewat mana?

“Sampeyan turun aja, Jalan lurus..nyebrang naik jembatan, turun langsung stasiun..”

Oh ok…suwun mas

-bersambung-

T E R P I C U : Review Indomie Real Meat Rasa Telor Balado dan Rasa Empal Goreng

Dengan sebuah pemicu, serangkaian Dinamit dapat membuka gunung dan menjadikannya sebagai terowongan

Cukup 1 tema meme yang dibuat oleh orang di luar negeri, Netizen Indonesia dapat terpicu membuat ribuan meme dari tema tersebut, meskipun kebanyakan misused.

Cukup seorang anak muda memperkenalkan keripik dengan rasa pedas merek nenek-nenek, maka kemudian banyak orang terpicu untuk membuat usaha-usaha menyediakan jajanan rasa pedas

Dan..

Cukup 1 Bakmi Mewah yang dibuat oleh Mayora, untuk membuat Indofood TERPICU untuk membuat Indomie Real Meat dengan berbagai rasa.

TRIGGERED!

Beberapa waktu lalu ketika saya masih asik berkutat dengan Mi Instan buatan Nissin yang beredar di Kantor, muncul lah teaser bahwa Indomie kembali meluncurkan rasa baru untuk lini produk “Real Meat”. Seperti yang pernah saya ulas di sini, kemampuan Indomie dalam ekstraksi bumbu dan rasa (yang kali ini akhirnya diperkenalkan ke publik oleh Indomie, sosok ibu Nunuk Nuraeni sebagai “ibu” dari rasa-rasa Indomie termasuk si legendaris Mie Goreng) kali ini kembali diasah dengan hadirnya varian Empal Goreng dan Telor Balado yang menjadi jualan mereka.

IMG20170525081324

Dan tentunya, 2 rasa ini membuat saya TERPICU untuk mencobanya, tapi kali ini pemicunya tidak sampai meledak karena kalah dengan niatan saya yang pada saat bersamaan sedang menghentikan dulu konsumsi mi instan untuk kurang lebih 40 hari kedepan, sehingga sembari menunggu waktu itu selesai, saya hanya mengandalkan testimoni dari rekan-rekan yang sudah mencoba berbagai mi instan – yang juga diluncurkan selama masa ‘puasa’ saya-, termasuk Pop Mie Real Meat yang akhirnya batal saya coba karena dari testimoni beberapa rekan yang cukup mengecewakan ,membuat saya batalkan niat untuk mencobanya.

Saat itu akhirnya datang setelah beberapa kali terlewat dengan beberapa ekspedisi perjalanan. Waktunya untuk mencoba mereka.

IMG20170525081415

Masing-masing 1 bungkus atau kotak Indomie Real Meat rasa Empal Goreng dan Telor Balado.

Untuk ‘aturan main’ dalam review ini juga masih sama :

-Takaran Air Rebusan @1 Cangkir

IMG20170525081534

ukuran cangkir per porsi

-Bumbu di tuang kedalam piring terlebih dahulu, bukan dituang diatas mie

-Dimasak selama 3 menit, tanpa bahan tambahan (telur)

-Dihidangkan bersamaan dengan Segelas Air Jeruk sebagai penawar rasa (american breakfast)

Selagi direbus, review pertama adalah bumbu yang diberikan masing-masing rasa

IMG20170525081732

Dari Indomie Real Meat Empal Goreng yang didapat adalah bumbu empal dengan tekstur encer, 3 potong empal, plus saus sambal dan bawang goreng untuk sentuhan akhir.

IMG20170525082339

Sedangkan Indomie Real Meat Telor Balado (Meat? Telor??) yang didapat adalah bumbu balado dengan aroma cabai yang menyeruak, dengan 2 buah telor puyuh rebus dan beberapa potong kentang.

IMG20170525082343

3 Menit sudah..ditiriskan..dan sekarang waktunya jajal :p

IMG20170525082801

Pertama adalah Indomie Real Meat Empal Goreng

Untuk memperjelas seperti apa empal goreng itu, saya harus mengingat-ingat kapan terakhir saya makan empal goreng..udah lama banget. Belum cukup, googling sebentar dan memastikan empal goreng itu kira2 sebelas duabelas dengan gepuk daging. OK..definisi rasa sudah didapat.

Suapan pertama..

Rasa manis muncul dilidah. “rempah-rempah” yang tertera di bungkus terasa cukup untuk mendefinisikan rasa empal goreng. Sementara daging empal nya yang…ehm 3 potong doang..begitu rapuh nya ketika ditusuk dengan garpu. Praktis, empal yang hanya 3 potong ini membuat sensasi mi rasa empal goreng nya hanya dinikmati sesaat, karena ketika empal nya habis, ya berubah kembali ke bentuk asalnya : mi goreng yang HQQ…dengan warna yang sedikit lebih pucat dari mi goreng biasa, bau yang lebih “sopan” dan lebih manis.

Sedikitnya kesan yang ditinggalkan 3 potongan empal ini, membuat saya memberikan penilaian untuk Indomie Real Meat Empal Goreng ini sebesar 68/100

Berikutnya adalah Indomie Real Meat Telor Balado

Saat mendengar mereka mengeluarkan varian telor balado, yang ada di pikiran adalah : kayak gimana telor yang akan disajikan sebagai topping : apakah potongan dari telur ayam rebus? Atau telor kering seperti yang dilakukan oleh Nissin dan kini juga dipake oleh Wingsfood dalam Mi Sedaap Ayam Bawang Telur? Ternyata saat melihat iklan televisinya, telor puyuh yang digunakan. Jadi sudah dapat bayangan mengenai rasa telur dan balado nya

Suapan pertama..

Ternyata bau cabai yang menyeruak (sepertinya efek penggunaan cabai kering) tidak menular pada rasa balado nya. Cenderung biasa aja, bahkan tidak sepedas Indomie Goreng Dendeng Balado. Saya sempat curiga dan berkali-kali membasuh lidah dengan air jeruk, takut rasa bercampur dengan rasa Empal Goreng yang manis. Tapi ketika kakak saya juga ikut coba, ternyata memang kurang pedas.

Mengenai topping nya yang berupa Telor Puyuh dan Kentang potongan kecil, saya malah menjadi sedikit bingung. Sejauh yang saya temukan di rumah makan, baik Warung Tegal atau Warung Padang, jarang sekali ditemukan masakan Telor Balado dicampur dengan Kentang. Dengan ukuran toping seperti ini dan bumbu cabainya, justru mengingatkan saya kepada Sambal Goreng Telor Puyuh. Ya. Daripada Telor Balado, kenapa tidak menggunakan nama Indomie Real Meat Sambal Goreng?

Kebingungan yang timbul selama mencoba si Telor Balado ini berpengaruh kepada penilaian dari saya : 65/100

IMG20170525084618

*minum air jeruk

Secara garis besar, Indomie memanfaatkan teknologi Retort Processing secara maksimal untuk mencari dan mengembangkan varian rasa untuk produk mereka. Namun, dalam pengembangan produk yang tujuannya adalah untuk mencari keuntungan, tentu harus mempertimbangkan biaya produksi, harga pokok penjualan, dan margin.

Ini yang mungkin sangat menguras pikiran. Bagaimana pun juga, biaya ketika menggunakan bahan Daging Sapi asli berbeda dengan biaya ketika menggunakan adonan Surimi (cari aja di Wikipedia kalo baru denger); ongkos untuk Telor Puyuh Rebus berbeda dengan ongkos untuk Protein Bertekstur. Sehingga, kadang apa yang didapatkan ketika membeli produk dengan bahan tambahan yang nyata alias Original Topping ini adalah : potongan ayam asap yang kalah gede dengan Jamur nya atau kacang merah yang lebih banyak daripada dagingnya.

Salah satu cara untuk mengantisipasi “sepi” nya original topping ini adalah : produsen harus memilih atau mencari varian rasa dengan bumbu yang sangat kuat dan khas. Sehingga ketika topping dalam mi instan nya habis, konsumen tidak serta merta langsung kehilangan rasa dari mi instan tersebut. Masih ingat dengan Indomie Goreng Rendang? Bahkan dengan bumbu nya saja kita sudah merasakan bahwa Indomie Goreng Rendang ini memiliki rasa yang jauh berbeda dengan Indomie Goreng Spesial, sekalipun minim topping. Jadi, misalnya pada Indomie Empal Goreng, ketika daging empal nya habis, setidaknya kita masih bisa merasakan rasa bumbu empal yang kuat dari Mie.

Selain varian rasa, varian Topping juga perlu diperhatikan.. Kembali ke paragraf sebelumnya, bahwa pemilihan rasa dan topping harus saling melengkapi satu sama lain. Seperti dalam rasa Telor Balado, yang ujung-ujungnya malah seperti sambal goreng. Saat sebuah rasa telah dipilih tetapi bahan utama kurang bagus ketika diproses menggunakan teknologi Retort, sehingga harus menggunakan bahan pengganti dengan mempertimbangkan biaya-biaya produksi tadi, maka bahan tersebut setidaknya tidak boleh merusak konsep varian rasa yang dipilih, baik dari segi tampilan maupun rasa.

Well..bagaimanapun juga Indomie sudah selangkah lebih maju dengan kompetitornya, dengan mengusung 4 pilihan rasa di pasaran. Meskipun hal tersebut tidak dapat dipisahkan seutuhnya dengan…

Eh, Bakmi Mewah apa kabar?

 

Gombong Itu IDJOE : Sebuah Kunjungan

IDJOE

Atau

IJO

Sebelum lebih lanjut, tulisan ini tidak membahas mengenai warna yang dimiliki oleh daun, karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang merujuk pada warna adalah HIJAU bukan IJO.

Cov 2

Ijo pada tulisan ini merujuk pada sebuah terowongan kereta api yang membelah perbukitan kapur bernama Gunung Malang, terletak di Bumiagung, Rowokele, Kebumen – Jawa Tengah. Bagi anda yang sering bepergian menuju Jogja / Solo dari Barat dengan kereta api, terutama di siang hari dan dalam kondisi terjaga, tentu akan melewati terowongan ini. Menilik sejarah singkat terowongan ini, dibangun dalam kurun waktu 1885-1886 oleh perusahaan kereta api kolonial Hindia Belanda, Staatsspoorwegen atau disingkat SS. Disebelah barat terowongan ini langsung masuk ke wilayah Stasiun Ijo, stasiun kelas III yang memiliki 3 jalur yang saat ini lebih banyak digunakan untuk bersilang atau kress dibandingkan untuk penyusulan.

Ijo_TasiunCov 3

Dulu saya mengenalnya sebagai terowongan Gombong, karena memang kalo dari arah Jogja, Stasiun Gombong menjadi stasiun terakhir sebelum KA Fajar Utama Jogja yang saya tumpangi melintas di Terowongan Ijo. Sampe kunjungan ini terjadi, saya baru sadar terowongan ini letaknya sudah masuk wilayah kecamatan Rowokele, bukan Gombong (yang juga kecamatan).

Persoalan akses ke stasiun dan terowongan Ijo ini, kalau dengan kereta api saat ini dipastikan anda harus turun di Stasiun Gombong. Jika melalui jalan darat relatif lebih mudah, anda tinggal mencari pertigaan kantor polisi Rowokele, berbelok ke jalan menuju Pantai Ayah / Goa Jatijajar. Ya, Stasiun Ijo terletak di jalur akses menuju tempat wisata andalan Kebumen tersebut. Hanya 500 meter dari jalan utama Bandung-Yogya. Jalan ini juga dilayani oleh Mikrobus Gombong – Jatijajar yang melayani sampai sekitar pukul 4 sore.

Peta

Kenapa Mengunjungi Ijo?

Kabar pembangunan jalur ganda kereta api di Jawa telah diperbaharui. Di tahun 2017, Purwokerto – Kroya menjadi fokus karena medan nya yang cukup sulit. Melintasi 3 jembatan cukup panjang dan 2 terowongan : Notog dan Kebasen. Tidak butuh waktu lama 2 situs yang dikunjungi pada 2011, Terowongan Kebasen dan Jembatan Serayu, sudah tersentuh pembangunan. Bahkan terowongan baru Notog pun sudah memasuki tahap penggalian. Untungnya Ijo masih aman.

It’s Time to Ijo.

It’s now, because like Richard Starkey says : Tommorow never knows

Setelah tertunda selama 1 minggu lantaran terlambat memesan tiket kereta api (kebetulan sedang ada perubahan untuk jadwal perjalanan kereta api per 1 april 2017, jadi semua pembelian untuk 1 april keatas tidak bisa dilayani), Jumat 28 April 2017 perjalanan bertajuk “Gombong Itu Idjoe” alias #GIDjoe dimulai. Agak kesulitan untuk melakukan perjalanan malam hari menuju Gombong. Pilihan jatuh kepada KA Bogowonto jurusan Jogjakarta, karena bisa dibilang kereta itu yang jadwal sampai di Gombong nya tidak terlalu siang. Untuk perjalanan kali ini, pemilik blog Djoernal Kelana, Ikbal, yang kemarin juga udah kopdaran di Semarang Poncol dalam LRTJ ke 17 juga turut bergabung dari Solo menggunakan KA Joglokerto.

Setelah kurang lebih duduk mundur 6 jam (salah strategi waktu milih bangku), sampailah di Stasiun Gombong. Dari 8 kereta penumpang yang ditarik hari itu, hanya 2 orang yang turun di Gombong termasuk saya. Melihat jam dan suasana dimana saat itu tampaknya barisan pak becak dan ojek masih bersemangat menyambut penumpang, saya menunggu didalam sekaligus ngisi daya hp sebentar. Kurang lebih setengah jam, saya akhirnya memutuskan jalan kaki menuju penginapan. Yang saya salutkan, jaringan komunikasi antar pak becak dan ojek disana sungguh kuat sekali..mungkin lebih dari 4G. Satu orang menanyakan tujuan saya waktu sedang ngisi daya dan saya jawab : (Hotel) Grafika – lupa nama daerahnya, maksudnya supaya tidak mencolok-. Hasilnya, dari saya keluar stasiun sampe ke jalan raya kurang lebih 100 m, seketika semua pak becak dan ojek menawari saya..lengkap dengan tujuan nya..

mas ayo mas…Grafika..

Luar biasa :p

Jarak 2,2 kilometer ternyata cukup ‘kurang kerjaan’ juga dilahap dengan jalan kaki sambil bawa ransel dan tripod ditangan. Sebenernya di jalan stasiun ada beberapa penginapan, bahkan ditengah perjalanan kaki ada 1 bangunan hotel baru yang sepertinya nggak jelas subuh-subuh gini melayani apa nggak (nggak ada tulisan buka/tutup..dari luar gelap), namun berdasarkan googling sana sini, pilihan jatuh kepada hotel yang letaknya –baru sadar- di pinggiran Gombong. Grafika Hotel dan Restaurant. Kamar bertarif 150rb per malam jadi pilihan. Petugas cukup ramah dan kooperatif, sampai menawarkan solusi tarif di jam reservasi yang ‘tanggung’ ini : “mas apa nggak nunggu sampe jam…saya kasih jam 6 deh bisa masuk? Sayang kalo jam segini kena 2 hari”. Tapi apalah artinya tarif 2 malam dibandingkan badan remek dan butuh segera mandi…

IMG20170429052335

Jam 7 pagi, perjalanan dimulai dari Grafika. Dibantu oleh pak satpam yang sangat penasaran sepertinya ketika tau tujuan saya ke Ijo, berangkatlah saya dengan mikrobus “Lancar” jurusan Gombong – Jatijajar. Untuk membedakannya dengan Mikrobus jurusan Buntu, dari jauh cukup disetop dengan kode garis ke arah belakang, pembeda dengan juruan Buntu yang lurus keatas. Dengan tarif 5000 rupiah, perjalanan kurang lebih 15 menit, sampailah di Stasiun Ijo.

IMG20170429065729

Saya masuk melalui pintu yang pagarnya sedikit terbuka, lalu lapor diri ke kantor PPKA, saat itu dilayani oleh Pak Dwi, untuk minta izin beraktivitas disekitar stasiun Ijo. Setelah berapa lama sepertinya Pak Dwi mengetahui ‘latar belakang’ saya sebagai penggemar kereta api, dan beliau memberi sinyal aman dengan catatan tidak melakukan kegiatan di emplasemen stasiun dan terowongan (khusus terowongan memang Dilarang kecuali petugas dari Kereta Api). Sebenarnya di sebelah bangunan stasiun ada gang yang langsung mengarah ke rel menembus stasiun. Namun sebagai tamu yang tujuannya memang ke stasiun ini, tidak ada salahnya untuk sekedar permisi kepada yang punya wilayah.

Sesuai dengan kesepakatan, bukit kecil sebelah timur stasiun menjadi jejak pertama di Ijo. Tripod yang memang pengadaan nya sengaja untuk kunjungan ini segera dikenalkan dengan medan perburuan. Sirine dari perlintasan jalan berbunyi. Kereta pertama akan segera datang…

Sinyal dari arah timur menyala merah, sementara saya berdiri dibelakang sinyal dari arah barat. Sulit menebak arah kereta, tetapi melihat posisi wesel yang mengarahkan ke jalur 2 atau langsir membuat saya berjudi : kereta dari arah timur. Benar saja, sorot lampu terlihat dari dalam terowongan. Kamera sudah dalam posisi merekam. Tapi, kok lambat sekali..jangan-jangan ini bukan kereta api ‘biasa’..tapi mesin perawatan jalan kereta api alias Tamping Machine? Makin terlihat…ternyata itu lampu sorot dari Lokomotif CC 206 yang menggeret rangkaian 20 gerbong semen dari Solo Balapan menuju Karangtalun, Cilacap.

Terhitung hanya itu saja yang meleset dari jadwal yang telah disiapkan sebelumnya. Ya. Jadwal Perjalanan Kereta Api menjadi sangat penting bagi anda yang ingin melakukan railspotting atau berburu kereta api. Dengan jadwal ditangan, hunting menjadi sangat efisien dan ‘tepat guna’ karena kita bisa tau kereta apa saja yang akan kita dapatkan di waktu dan lokasi tertentu, sekaligus dapat memilih apakah kereta tersebut kita ‘ambil’ atau lewatkan, tanpa harus terlewat. Berdasarkan jadwal yang sudah disiapkan berdasarkan gapeka dan pantauan dari kamerad Faishal Ammar, pengasuh blog The Railone selaku informan setempat, setelah KA Semen masuk, KA Ranggajati dari Cirebon Kejaksan menuju Surabaya Gubeng dan Jember melintas dengan perlahan. Setelah KA Semen berangkat kembali, kini ‘parade’ kereta api dari arah timur dimulai. Berturut-turut ada KA Sawunggalih Utama yang…hmm di akhir pekan panjang ini mendapatkan 2 rangkaian kereta Eksekutif dibelakang 6 Kereta Bisnis. Mengejutkan, karena sewaktu reservasi, kursi kelas Eksekutif yang dijual hanya 1 kereta. Setelah Sawunggalih Utama, KA Fajar Utama Jogjakarta juga melintas menuju Jakarta Pasar Senen..masih perlahan..dengan rangkaian kereta yang agak lebih panjang dari biasanya.

Agak jauh dibelakangnya, KA Joglokerto langsung begitu saja menuju Purwokerto. Artinya, Ikbal saat ini sudah sampai di Gombong dan harusnya sudah berada di dalam Mikrobus Gombong-Jatijajar. Dia benar-benar muncul saat KA Taksaka dengan kereta Priority melintas, dan bis nya terhalang di perlintasan Ijo. Setelah itu bersama-sama lah kita mengeluarkan senjata andalan sambil berpindah dari ujung ke emplasemen sebelah barat sampai kereta dari arah timur terakhir, yaitu Argo Lawu Tambahan.

Ijo_Joglo

Ijo_Pasundan

Tengah hari adalah waktunya kereta dari arah Barat melintas menuju timur. Setelah sebotol air mineral tambahan dihabiskan, bergeser kembali ke bukit sebelah timur untuk ‘mencegat’ kereta yang akan masuk kedalam terowongan. Diawali oleh Kutojaya Utara dari Jakarta Pasar Senen, lalu ada Pasundan dari Bandung dengan salam metal dari kabin lokomotif, Fajar Utama Jogja yang gak kalah panjangnya dengan yang tadi pagi melintas, lalu Kereta Semen yang kini bertolak lagi menuju Solo Balapan tanpa perlu berhenti, tapi ngos-ngosan, dan Gajah Wong yang juga melintas perlahan. Belakangan saya sadar bahwa penyebab lambat nya kereta api yang melintas disini adalah adanya Semboyan 2A berupa lingkaran kuning yang membatasi kecepatan maksimal kereta api menjadi 40 km/jam. Mungkin kondisi terowongan menjadi alasan..

Semboyan

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang, sepertinya kunjungan hanya sampai disini, karena si Ikbal kan mengejar KA Progo dari Jika pembuka kunjungan ini adalah persilangan KA Semen dan Ranggajati, maka penutup kunjungan kali ini adalah Persilangan antara KA Lodaya jurusan Bandung Hall – Solo Balapan dengan KA Argo Wilis Surabaya Gubeng – Bandung Hall. Lepas persilangan itu kami sempat bertemu dengan mbah-mbah penduduk setempat yang sepertinya sudah paham akan aktivitas ‘railspotting’ di Ijo ini. Beliau malah menanyakan kenapa kami tidak di mulut terowongan sebelah timur karena disana juga nggak kalah bagus pemandangannya, dan banyak juga para pemburu kereta api yang hunting disitu. Bisa juga sih disana, tapi masalahnya adalah agak susah hunting disana karena hanya mengandalkan sinyal dari arah timur, pun untuk kereta dari arah barat lebih ribet karena tertutup bukit dan hanya mengandalkan lubang terowongan dan ketajaman telinga.

Pamit kepada petugas di Stasiun Ijo yang sudah berganti shift, setelah Ikbal menunaikan kewajiban Zhuhurnya, kami kembali ke pusat keramaian Gombong dengan mikrobus ‘keluarga’, dimana sang Ayah menjadi pengemudinya dan kondekturnya adalah..PUTRI nya yang sedang libur sekolah. Ada pengalaman unik disini ketika lagi-lagi seorang mbah-mbah menegur kami dan menanyakan asal kami. Mak bedunduk ternyara anaknya tinggal di komplek sebelah, tempat tinggal yang dulu di Bojongkulur, namun berbeda blok. Si Mbah pun secara otomatis dan tiba-tiba merasa dekat sehingga perlu untuk mengajak mampir sambil berusaha mengenalkan saya kepada anaknya yang merantau itu. Sungguh kearifan lokal yang kental 😀

Turun di Pasar Gombong, kami kesulitan mencari warung makan disana karena ternyata warung tenda yang ada buka nya baru nanti malam. Sate Pak Glonto pun jadi pilihan bagi kami yang sudah lapar. Melihat tempatnya yang cukup antik dan legendaris, sepertinya sate disini enak, dan memang demikian adanya. 2 porsi sate tanpa gulai yang kami pilih tandas bersama teh manis dan emping. Setelah kenyang, kami kembali menuju ke Stasiun Gombong. Kami berpisah disini : Ikbal kembali ke Jakarta dengan Progo, sementara saya masih ada janji dengan Oom Rizal, rekan bismania yang sebenarnya akan membantu soal tiket bis ke Jakarta yang akan digunakan Ikbal, sebelum akhirnya dia dapet tiket Progo. Saya dan Oom Rizal meninggalkan stasiun Gombong, ada Mendoan dengan sambel kecap yang sudah menunggu.

Cov 1

Gombong Itu Idjoe

Sebuah kecamatan dengan sebuah stasiun kecil dan Terowongannya yang legendaris..yang perlahan tapi pasti akan tersentuh pembangunan jalur ganda

Hari ini kereta api masih melintas disana

Kapan terowongan baru itu selesai..

Dan Kapan kereta api terakhir akan melintas di terowongan Ijo..

Saat tulisan ini dibuat masih belum tahu..

Seperti Richard Starkey berkata..

“Tomorrow Never Knows”

 

The 17th Long Road To Java : Holiday On Duty (4)

PANJANG PANJANG SEKALI

11.30

Gerah

Namanya juga pinggir laut

Biar udah ganti baju tetep bawaan nya keringetan.

Sembari nungguin Ikbal dan mancing2 si Yonathan supaya nongol di Poncol, ke lobby dulu buat cetak bo……..uset ini banyak amat penumpang pada ngantri ampe parkiran? Waduh penuh dah ini Tawang Jaya. Sambil nyamperin salah satu mesin cetak boarding pass. Sampe depan mesin…

Eh lost connection

Pindah ngantri ke mesin ke 2..

Lah sama

Pas pengen pindah ke mesin berikutnya..tau2 dari antrian mesin 3 dan 4..pada gabung ke mesin 3 dengan alasan yang sama..dan gak sampe 5 menit kemudian…

Seluruh mesin boarding pass Semarang Poncol nggak bisa diakses!

Yihaa

Tawang 1

Langsung riuh dah itu. Apalagi sebentar lagi KA Kamandaka juruan Purwokerto akan berangkat dan KA Maharani jurusan Surabaya akan masuk untuk diberangkatkan kembali. Dan – untungnya – para penumpang yang tadi ramai itu adalah penumpang Maharani dan Kamandaka yang akhirnya diperbolehkan masuk tanpa boarding pass, tetapi menggunakan bukti pembelian tiket.

Tawang 2

Karena gak kunjung pulih juga itu mesin boarding, sementara si Ikbal udah sampe Poncol, akhirnya beli minum dulu lah sambil nungguin si Yonathan yang pulang kerja tengah hari. Baru aja duduk sambil ngabisin minuman botol, tiba-tiba dari kejauhan muncul abang ojek online si Yonathan yang saat ini terlihat lebih padat cenderung mengembang dibandingkan waktu ketemu di Kedung Cowek, Surabaya saat dia masih menjabat sebagai camat Bulak merangkap PLT Lurah Sidotopo :p

adonan kali ngembang

Berhubung udah waktunya jam makan siang, sementara kereta gue akan jalan satu jam lagi, si Yona langsung nganterin gw sama Ikbal ke warung ayam goreng di sinyal muka Semarang Poncol. Sekilas warung nya memang agak kurang meyakinkan, tapi karena disini katanya adalah warung langganan beberapa RF (dan deket juga dari Semarang Poncol), maka masuklah kesana dengan semangat kelaparan. Gak pake lama, sepiring ayam goreng dengan 2 nasi putih gw santap dengan Ikbal dengan cepet, sementara si Yona cm ng-es teh doang.

Jam menunjukkan pukul setengah 2, waktunya transitan ini disegerakan selesai. Si Yona langsung nganterin gue balik Ke Poncol. Pas muter di palang kereta segitiga pembalik ini, terlihat si Tawang Jaya panjang udah kondisi siap. Kabar gembiranya adalah : kereta pembangkitnya dipasang tepat di belakang lokomotif, yang artinya adalah kereta gue : K3-14 adalah kereta paling buntut, jadi bisa buat aksi backriding :p

Turun dari boncengan si Yona, gw kedalem sementara dia lanjut balik jemput si Ikbal. Eh pas Ikbal nongol ternyata si Yona langsung balik gara-gara langit Semarang udah mau ujan. Yaudah sekalian aja si Ikbal cabut dan gw langsung boarding di Tawang Jaya.

Pe-er nya naik di gerbong belakang yang panjang itu adalah..jalan jauh ke belakang sampe peron abis,trus nelusurin ballast sampe tangga bancik terdekat…

Lah kan bisa elo naik di kereta paling deket trus jalan lewat dalem?

..sejauh 12 kereta..yang udah diisi orang..bawa2 tas? Senggol-senggolan

Sampe di K3-14 disambut dengan suara pengumuman dari kru kereta api “Anda sedang berada di Kereta Api Tawang Jaya..tujuan akhir..Pasar Senen..yang akan berhenti di Weleri..Pekalongan..Tegal..Brebes..Babakan..Cirebon Prujakan..Haurgeulis..Bekasi..dan mengakhiri perjalanan di Stasiun Pasar Senen”

..begitulah bunyinya…dan berulang

Penumpang disitu dari Semarang Poncol diitung-itung termasuk gue nggak sampe 10 orang. Ada 2 orang ternyata kru numpang tidur.

Jam belom tepat pukul 2 saat tiba2 kereta perlahan bergerak. Iya. Tawang Jaya berangkat lebih cepat dari jadwal, mungkin melihat bahwa semua penumpang dari Semarang Poncol udah melakukan boarding pass.

Perjalanan kali ini akan lebih banyak diabadikan melalui tayangan berikut..

Tawang 3Tawang 4

Lepas Cirebon..sepertinya waktu yang tepat untuk makan malam. Yang ditawarkan reska saat itu adalah nasi goreng 3 bulanan dan nasi ayam krispy. Oke. Ayam krispy lagi aja dah. Ditebus dengan selembar 50ribuan yang dikembalikan……ehm kurang seribu kembaliannya. Si petugas reska bilang tunggu sebentar..dan sebagai penumpang yang berpikiran positif : OK..ditunggu aja.

Tawang 7

Ayam krispi nya standar kayak ayam goreng tepung ala kentucky. Nilai plus nya adalah ayam nya anget, entah emang baru digoreng di Cirebon, atau di Cirebon sukses terpapar sinar lampu :p

Diluar udah gelap, perlahan mata udah mulai berat..dah tidur aja lah..

Tawang 6

JRENG JRENG JREEEEENGGGG

“Para penumpang yang terhormat, sesaat lagi kereta api Tawang Jaya akan tiba di Stasiun Bekasi”

Buset ini pengumuman kereta nggak nyantai amat volume suaranye. Gw langsung bangun dan nyiapin tas. Harus bergeser kearah depan karena kalo tetep disitu bakal agak susah turunnya.

IMG20170318203019

Jam 20.30 akhirnya Tawang Jaya masuk Bekasi. Abis ngerekam dan si Tawang Jaya berangkat lagi, gak pake lama langsung nyamperin parkiran buat jemput si Franco yang nginep semaleman disitu. Isi bensin..dan tancap gas sampe rumah

Selesai

Demikianlah LRTJ kali ini yang bertajuk Holiday On Duty

Ucapan terima kasih kepada :

Tuhan YME atas segala kemudahan, kelancaran, dan kebasahan yang diberikan

Orang-Orang Rumah

Orang-Orang Kantor

Kru RAYA AD 1742 AR

Warung Soto Kuali Pak Iket

Kru Safari LUX

Kru KA Tawang Jaya

Yonathan selaku tuan rumah dan angkutan transit :p

Ikbal yang ngojek dari mess..

..dan yang sudah menyimak perjalanan ini

Terima kasih

.

.

.

.

.

…dan mas petugas reska .. dengan kembalian seribu nya ..

nggak pernah datang kembali..

The 17th Long Road To Java : Holiday On Duty (3)

PAGI PAGI SEKALI

 

18 Maret 2017

3.35 WIB

Pindah tempat duduk dulu setelah turun dari Raya dan ditawarin oleh beberapa tukang ojek. Gw baru sadar bahwa karena terminal ini untuk bis antar kota hanya terminal lintas, maka sebelum jam 6 pagi terminal ini akan tutup dan bis-bis hanya melintas/ menaik-turunkan penumpang di luar terminal. Yaudahlah menunggu terang dulu didepan terminal.

Dari arah selatan bis yang melintas hanya bis Semarangan macam Royal Safari..Safari-Taruna..disusul Surabayaan macam Sugeng Rahayu GS dan Eka. Sementara dari arah utara lengkap..dari Rajawali Bandung..Sinar Jaya..Wonogiren kayak Gajah Mungkur..sampai si fenomenal Cendana/Madjoe Grup melintas langsung dengan kenalpot cempreng nya. Tapi tumben jarak antar bis nya jarang-jarang..apa efek macet kemaren ya?

Sampai akhirnya pelan-pelan matahari muncul dibalik pohon-pohon kelapa dibelakang terminal. Ok. Hari mulai terang..pindah dikit ke dalem terminal, sambil mencari-cari dimana lokasi sasaran?

Ah ternyata dibelakang halte penurunan penumpang…

Iya..betul..Soto Kwali Pak Iket..beberapa menyebutnya Soto Bening. Kata orang-orang sih pagi udah buka jadi cocok buat sarapan. Sambil nunggu buka-buka HP..

Ealah

Bekasi Timur macet parah. Imbasnya bis-bis yang ngambil penumpang dari agen Bekasi Timur pada kejebak macet dan telah. Malah si bis tingkat fenomenal yang tadi pas di pulogebang ketemu, jam 11 malem masih macet-macet di Bekasi Timur…buset

Sambil tunggu..ini warung soto kok nggak buka-buka…tutup apa gimana ya? Udah jam 7..kalo kesiangan bisa repot di Semarang nya.

Dan bis-bis dari Jakarta perlahan masuk..disela-sela bis Semarangan dan Bis Lokal macam Sukses dan Kaka Trans yang memang sudah jam tayang nya.

SUKSES 1T2

T4T5

Nggak lama sebuah motot dengan 2 mbak2 parkir didepan warung..bawa bungkusan…

…dan mbak-mbak itu lah yang ‘menjalankan’ Soto Pak Iket alias..warungnya baru buka.

Ckck..gue baru sadar bahwa di daerah..jam aktivitas warganya itu gak seketat celana #eh seketat Jakarta. Iya..kalo pagi disana ya jam 7..bukan jam 5. Ngintip dari halte..kayaknya belom siap itu warung.

Lagi nunggu warung soto buka..tiba2..sebuah Rosalia Indah masuk..dengan kap belakang kebuka..wah ini kayaknya ngowos abis macet panjang. Bener aja. Berenti di halte arah Solo, disusul sama Premium Class nya yang abu-abu..eh yang ngowos ini malah balik nyamperin gue..dan parkir. Iyak, dia harus Storing. Penumpang nya langsung pada turun dan disamperin pedagang salak yang dengan giat nawarin sambil ngasih buat dicobain.

Balik ngintip warung so…lha itu ada mbah2 di dalem udah nyarap? Wah brati udah buka ini. Ikutan ah..dalam sekejap sudah duduk didalam bersama semangkuk soto kwali..teh manis..dan barisan printilan didepan mata, dari jeroan sampe tempe. Dalam seruputan pertama…hmm seger. Khas soto bening poros Semarang-Solo. Setengah mangkok , dicobainlah Babat bacem yang nggak minta dipotongin dulu. Kelot-kelot dah :p

Dan akhirnya kesegaran soto ini memaksa diri untuk…”Bu-Bu..satu lagi ya”. Lha ya enak.tapi kali ini nggak lupa minta dipotongin babatnya :p. Uniknya, melihat warung soto ini udah buka, dan emang waktunya sarapan, mendadak warung ini seolah2 jadi tempat servis makanan nya Rosin karena penumpang yang tadi bis nya storing pada ikutan nyarap sambil nungguin bis operan.

2 mangkuk soto dan 2 potong babat beserta segelas gede teh manis sudah digarap, waktunya kembali ke Semarang. Melihat barisan Raya semarangan udah melintas 4 kali pas lagi nyarap, artinya sangat jelas bahwa nanti ke Terboyo mau nggak mau naik Safari grup..pertanyaannya: apakah si Ijo, si Putih Royal, atau si Blirik sabun Lux?

Dan akhirnya yang muncul adalah si Discovery blirik Lux. Begitu masuk dan duduk..buset ini sempit amat? Ternyata bangku nya reclining, dan bangku depan dalam posisi agak nyantai. Pantesan sempit gini..

Bus meninggalkan Tingkir dan menuju Bawen-Ungaran-Semarang. Gue duduk di bangku deket pintu belakang. Kenek di blakang agak kesulitan untuk mencari penumpang karena desain kaca pintu belakang yang paten. Artinya kalo mau teriak2 ke luar ya kudu buka pintu. Sepanjang jalan lawan nya Cuma mobil pribadi sama truk. Masuk Bawen sebagai kewajiban, dan menanjaklah menuju Ungaran, melewati Laksana ungaran yang penuh dengan parkiran motor pekerjanya.

Lagi asik chat dengan Ikbal yang lagi pendidikan di Semarang dan ngajakin ketemuan di Semarang Poncol, tiba-tiba bus berbelok ke kiri. Sekilas ditikungan terlihat rambu yang menunjukkan bus antar kota wajib berbelok ke kiri. Sepertinya ini mengarah ke Terminal Sisemut. Baru tau kalo Ungaran punya terminal yang letaknya agak kedalem karena biasanya, bis-bis antar kota masuk nya di Banyumanik. Lintasan berubah dari jalan raya propinsi menjadi jalan kota yang cenderung padat dan sempit, tapi kecepatan bus sepertinya tidak banyak berubah..ngebut.

Sampai di suatu titik..di sebelah kanan jalan terdapat sebuah bangunan dengan lapangan parkir yang agak luas..diisi kebanyakan oleh truk-truk engkel..dengan bangunan rapih berjejer. Sementara bus saat itu berhenti didepan..dan kemudian dari dalam lapangan parkir terlihat bis BRT Semarang…

Lah? Ini Terminal Sisemut? Gini aja??

Ternyata terminalnya diluar dari bayangan. Malah cenderung mirip parkiran atau pangkalan truk kalo disitu nggak ada BRT. Bus juga Cuma bayar TPR di depan nya..trus belok kanan jalan lagi kearah jalan raya.

IMG20170318093126

Separuh dari isi bis berkurang saat bis berenti jelang masuk Tol Tembalang. Cuma ketambahan 1 orang bapak bercelana pendek yang langsung duduk selonjoran di bangku belakang. Iyalah kosong. Saking kosongnya, itu kenek depan pas masuk tol langsung duduk di bangku tengah dan tidur.

IMG20170318100231

Tol Semarang dilibas dengan santai, gak terasa udah diujung Muktiharjo dan siap2 muter buat arah ke Terboyo. Ini waktunya gua untuk kedepan dan siap-siap turun di Unisula. Sampai di Unisula, gue turun dan langsung nyebrang ke shelter arah Kaligawe untuk nungguin BRT yang ke arah SriRatu..dan Tingkir – Unisula ditempuh Lux selama kurang lebih 2 jam. Lama juga ya..

Baru naro tas di shelter…atau sekedar halte tinggi..dari jauh keliatan sebuah truk eh bis BRT ¾ tujuan Sisemut (lah balik lagi gue ke Ungaran)

Kesan yang didapatkan dari BRT Semarang ini adalah….kacrut

Okelah yang pertama bis tidak lewat rute seharusnya karena memang Jl Kaligawe macet nya ampun-ampunan. Jadi di kolong tol Bus langsung belok ke arah Tanjung Mas, lalu belok ke Ronggowarsito..nyebrang rel..baru balik ke rute aslinya lewat Sri Ratu. Tapi bawaan pengemudinya nggak ada beda dengan bis kota biasa. Kedua, pas lewat Ronggowarsito, palang kereta udah menyala dan sudah mulai ditutup. Dan yang terjadi…palang keretanya digocek. Ketiga..ini yang bikin gondok : awak Onboard nya sangat2 INFORMATIF…

…Jadi pas jelang pemberentian Sri Ratu, si onboard ini Cuma bilang 2x..”yang Sri Ratu..Sri Ratu”. OK. Gw siap di pintu tengah. Tiba-tiba dia jalan kedepan. Pas gue liat ke kaca depan…di pemberentian dari jauh udah keliatan penumpang yang mo naik. Iyak : penurunan di Sri Ratu lewat PINTU DEPAN. Yaudah gue ke depan agak buru-buru sebelum penumpang naik. Pas gue mau turun si onboard dengan santai bilang :

“Yah bukannya dari tadi .. udah dibilangin Sri Ratu..”

Sebentar…saya harus gunakan kosakata kasar yang mana ini ya?

Bentar…ah ini aja..

Udah Bilangin NENEKLO KOPROL..

Iya elo bilang bentar lagi Sri Ratu, tapi elo nggak bilang turun nya lewat pintu depan. Lo kata yang naik bis ini orang Semarang doang yang udah apal? Gak ada turis?

Bis terus ngibrit dari Sri Ratu dengan asep yang kebul-kebul..

Sudah dulu kita mengumpatnya, kali ini waktunya mampir dulu ke tempat Loenpia yang lokasinya ngumpet : Loenpia Mbak Lien. Agak kaget karena sekarang dijualnya Cuma 1 jenis : istimewa, dan Tahu Bakso yang dijual beda kayak yang waktu itu kakak gue beli dimarih. Tapi 1 hal yang bener : merujuk dari tripadvisor, yang melayani cenderung jutek. Itu benar :p

Kelar dari Mbak Lien, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki…

Akhirnya jalan kaki juga

..jalan kaki ke Semarang Poncol. Jalan kaki aja..diukur-ukur juga nggak sampe 1 km. Sampe di Semarang Poncol langsung ngibrit ke…..

The 17th Long Road To Java : Holiday On Duty (2)

DINGIN DINGIN SEKALI

17 Maret 2017

Jumat pagi yang sangat cerah. Waktunya untuk keluar ngisi angin si Franco sekaligus beli logistik buat perjalanan nanti.

Tapi..seperti lagu The Beatles “Tomorrow Never Knows”..besok nggak ada yang tau. Jangankan besok, ntar aja kita nggak tau bakal kayak gimana. Lagi enak-enak persiapan ngisi batere ponsel sekaligus mau nyiapin makan siang..tetiba listrik ngetrip..15 menit kemudian baru nyala. Yah..ngecas lagi dah biar penuh nya luber.

Dan cuaca yang tadinya cerah..di jam 11 tiba-tiba berubah mendung…gelap..dan kemudian hujan angin. Duh..mana belom mandi..mo berangkat jam brapa ini?  Mandilah dulu..trus makan siang..dan masih pake celana pendek karena masih turun gerimis cenderung deras. Sementara jam udah menunjukkan pukul 1 siang. 3 jam lagi menuju jam berangkat bis dan itu lokasinya di Kranji. Ditengah gerimis yang udah mulai jinak, nekatlah gue berangkat ke Stasiun Bekasi buat nitipin si Franco. Sepatu gue masukin bagasi skuter. Pake ponco kresek biar tas gak kebasahan, dengan harapan ntar dijalan bisa kering kena angin. Pamit sama Nyonyah..dan berangkatlah gue ke Bekasi

Di Jalan..gerimis gak kunjung reda. Celana jins yang tadinya kering lama lama makin membiru. Berat menyerap air. Agak ragu juga karena meskipun langit di rumah sudah mulai cerah, di sebelah utara langit masih menghitam. Pelan-pelan gw naik skuter..lewat permai atas..pasar rebo..galaxy..dan kemang pratama..sampe di Pekayon HUJAN ! Aduh..nanggung amat..mo brenti dimana ini? Gas terus lah sambil klaksonin kendaraan kendaraan yang pada lelet. Jelang Jembatan Summarecon..gw milih untuk naik dan muter lewat pintu air, gak lewat jalan depan stasiun. Masih ujan-ujanan gue lewat pintu air..masuk gang…dan ternyata BANJIR!! Wadoooo..kalo masih naik si Gio gapapa dah. Ini si Franco bisa amsiong kalo diajak banjir2an..gas terus lah..untung jalanannya gak lobang.

Melipir-melipir..dan sampailah di Parkiran Surya Gemilang..yang masih penuh dengan motor penumpang KRL. Gw terpaksa diparkir di belakang..yang ternyata ada genangan. Yah..ini sih ke Tingkir pake Sendal Jepit dah. Gw pasrah dah titipin itu si Franco di SG. Pas keluar ke Stasiun..nah loh banjir juga ini stasiun. Lumayan sebetis..ampe celana gue gulung-melorot-gulung lagi. Ponco yang tadinya mo gue buang akhirnya gue putuskan gw bawa ke Tingkir. Siapa tau ujan. Masuk Stasiun Bekasi diiringi petir gede, gue masuk ke KRL yang ada di Jalur 2, sementara penumpang yg baru turun masih pada di peron dan sibuk menghindar dari hujan angin.

IMG20170317144911

Denger pengumuman..ternyata KRL Jalur 3 yang jalan duluan. Yaelah…

IMG20170317144915

basah..

Untungnya gak lama setelah itu .. Jalur 2 juga jalan. Lumayan lah sepetak doang Bekasi-Kranji, daripada macet di GrandMall..apalagi ujan gini. Sampe di Kranji stasiun masih penuh dengan Penumpang yang pada nungguin ujan. Sambil ber-ponco gw keluar ke jalan raya. Dan…bener aja. Lalu lintas ternyata stagnan. Arah Bekasi nggak gerak. Bahkan sampe KWK 20 dateng dan gue naikin, itu arus gak gerak-gerak..bahkan udah turun jembatan Kranji pun buntut macetnya belom keliatan.

IMG20170317151750

Macet tak berujung

Turun dari KWK 20..berjalanlah ke pool garasi PO Raya. Laporan untuk pemesanan tiket Exe 28. Dan si 28 udah menyambut didepan..

Raya

Executive 28 – 1

Agak lega melihat bahwa exe 28 kali ini dilayani oleh Mercedes Benz OH 1518 berbodi Legacy Sky buatan Laksana. Melihat gue mondar mandir di ruang tunggu, pak pengemudi yang sudah sepuh (yang ternyata adalah driver tengah) mempersilahkan untuk naik kedalam dalam bahasa jawa (gue lupa kalimatnya, tapi yg jelas nyuruh nunggu didalem aja). Sambil kedinginan gara-gara celana masih anyep, gue taro itu tas di kursi no 12.

IMG20170317154838

Gak lama pak kondektur naik dan menanyakan tiket..

Kondektur : Mas..tiketnya..

Gue : Oh iya..*buka dompet

Kondektur : nanti turun mana? (nyobek tiket)

Gue : Tingkir ya pak..

Kondektur : Pos Tingkir?

Gue : (pos?) iya pak..Tingkir..

Agak kaget juga kenapa bilangnya pos yak? Ah ntar juga kalo sampenya subuh gue juga paling udah bangun di Krapyak. Sambil nunggu keberangkatan gue berdiri didalem (celana masih anyep), sementara didepan para driver sedang asik cangkrukan. Jelang jam 4 sepertinya Raya kedapatan 1 orang penumpang lagi dengan 2 tas yang agak besar.

IMG20170317154844

Halo, Bangku empuk

Jam 4 teng..ternyata bis belom bisa dilangsir ke Pulogebang. Ada 1 penumpang lagi yang masih kejebak kemacetan. FYI aja, selama nungguin waktu berangkat, itu lalu lintas didepan pool ke arah Bekasi masih stagnan.

IMG20170317154831

Setelah nunggu 15 menit, akhirnya terpaksa bus tetap dilangsir ke Terminal Pulogebang. Disini penumpang yang tadi bawa 2 tas terlihat bingung mau duduk dimana. Pertama dia duduk di bangku 7-8. Pak kondektur yg ngeliat segera menegur..

Kondektur : “pak duduknya disitu lho..11”

Penumpang Ngeyel : “Oh iya-iya..bentar pak..masih kosong kok..”

Kondektur : “langsung di situ aja pak..” *muka bete

Yak..si Penumpang Ngeyel ini duduk disebelah gue. Dari gelagatnya sepertinya penumpang ini agak sedikit merepotkan. Setelah berbasa-basi yang gue tanggapin dengan dingin, bus melaju menembus jalanan Raya Bekasi yang basah.

IMG20170317161825

Masih belom ketemu ujungnya

Jelang Taman Modern..tiba-tiba terdengar alunan musik di Bis..tapi gue intip kedepan kok kayak nggak ada yg ngutak atik audio…dan itu ternyata musik dari HP Penumpang Ngeyel tadi yang lagi dengerin musik..nggak pake earphone (belakangan gue baru tau kalo judul lagunya adalah Suket Teki)…yaelah…

IMG20170317163842

Jam 5 lewat 5 AD 1742 AR memasuki Pulo Gebang. Kondisi terminal yang padat memaksa 42 untuk sementara masuk ke jalur pemberangkatan jurusan Jawa Timur. Raya segera parkir di jalur nomor 24 setelah bis yang menempati nya berangkat..dan itu adalah Bis RAYA juga..Junior Exe.

IMG20170317164715

Gue langsung turun untuk ngeringin celana sekaligus melihat lebih dekat terminal yang katanya paling gede ini. Secara tiba-tiba pak Kondektur ternyata malah curcol..

Gue : “Pak nanti berangkat lagi jam brapa ya?”

Kondektur :”Setengah 6 mas”

Gue : “Ooh…mo ngeringin celana dulu ini..masih anyep..nanti ini masuk Indorasa apa Markoni?”

Kondektur : “Indorasa mas..udah cipali semua 2 arah”

Hmm..akhirnya lulus juga dari Markonah #eh Markoni

Kondektur : “Itu sebelahmu itu…ngeyelan orangnya”

Gue : “Sebelah saya?”

Kondektur : “Iya..bawa barang gede..ditawarin masuk bagasi gak mau. Bawa diatas mau taro dimana? Bayar 2 nggak mau..”

Gue : “Oh..ketara pak orangnya ngeyelan..hehe”

Kondektur : “Iya kan..dari tadi pindah..ntar kalo dari sini penuh semua apa nggak pusing”

IMG20170317165259

Salah Jurusan

Tingkir W2

Gak lama penumpang dari Pulo Gebang mulai naik. Sekalian tanya sama yg baru dateng, ngibrit lah gue ke bawah cari toilet sekaligus pengen liat kayak apa sih dalemnya Pulo gebang khususnya area buat orang bertiket. Sekilas di terminal keberangkatan masih banyak ruang kosong. Dominasi kursi kursi tunggu dan ada ruang untuk anak. Ketika turun dan ke Toiletnya…hmm..gini doang nih toiletnya? Masih mencerminkan ciri khas “bisa bikin gak bisa ngerawat”..

IMG20170317170336

Balik ke lantai atas..lha kok bis nya jalan? Tapi ngeliat jam yang masih 15 menit lagi..ah kayaknya pindah jalur nih. Bener..pas ke jalur 12, ada salah satu pengurus Raya yang stand by. Iyak si 28 pindah dari jalur 24 ke 12. Setelah parkir..marilah hunting sejenak..

Tingkir W3Tingkir W4Tingkir W5

17.38..terdengar aba-aba dari pak kondektur..yak AD 1742 AR siap melaju meninggalkan Pulo Gebang. Okupansi saat itu tidak terlalu padat, terkonsentrasi dari hot seat sampe tengah, dan ini membuat Bapak Ngeyel tadi membulatkan tekad untuk..pindah ke belakang! Agak ragu-ragu itu si bapaknye beneran balik lagi apa nggak..tapi setelah memastikan si Raya ini nggak ngambil penumpang lagi..maka merdeka lah gue dengan 2 kursi full di tengah2 dengan selonjoran maksimal, tas di legrest dan kaki yg masih kedinginan karena anyep :p

Mercedes Benz OH1518 berjalan menyusuri JORR yang masih basah, saat pak kondektur mulai membagikan panganan sore ini. Agak mudah ditebak panganan dari Raya ini, maka ketika kotak yang diberikan itu kita buka, akan terlihatlah…

IMG20170317174314

Lho…

Kirain bolu..ternyata sebuah Roti Coklat

..dan hanya itu yang beda. Sisanya tetep : AMDK gelas plastik dan sebuah tissue basah

IMG20170317174423

Suasana seimbang tepat..jadi nikmat..ROTI coklat

Menikmati sepotong roti..selonjoran sambil kedinginan dan mendapati keadaan bahwa..Tol Cikampek masih tetap macet kearah Bekasi. Masih heran kenapa rata-rata macetnya 2 arah selalu berakhir sampai Bekasi Barat. Tapi mungkin kali itu karena habis hujan badai..jalan yang masih basah, membuat pak pinggir ini membawa si 1742 AR ini dengan hati-hati..gak kenceng tapi pasti.

Lepas Tol Cikarang Utama, langit sudah gelap,  Bis mulai dibawa kencang. Sedang mencoba untuk selonjoran, tiba-tiba dari belakang terdengar ada ribut-ribut. Pak kondektur yang sedang kebelakang mendapati ada penumpang yang tidak duduk di nomer yang diberikan. Penumpang keberatan ketika diminta pindah kembali ke nomernya karena menurutnya bis saat itu nggak penuh, dan dia tidak sekali ini saja pindah tempat duduk dan tidak apa-apa. Pak Kondektur menjelaskan bahwa maksudnya bukan kurang ajar..”kulo mboten songong pak..”, tapi hanya mengingatkan kalo sebelom sampe di checker penumpang/restoran sebaiknya penumpang tetap duduk sesuai nomer supaya tidak dibilang sebagai penumpang gelap atau sarkawi. Hmm..kalo menurut gue sih, kalo emang mau pindah mbok ya komunikasi dulu sama kru soal kemungkinan mau naikin penumpang lagi atau nggak…atau mau masuk pos pemeriksaan atau gimana..supaya nggak ribut2 gini..

IMG20170317183804

Jauh juga ternyata Cikarang – Cikopo..tidur bangun tidur bangun akhirnya sampe Cikopo sekitar  jam 19.27. Disini terlihat penumpang udah mulai asik dengan legrest dan selimutnya…iya pada tidur semua 😀 Melewati KM102 dimana terdapat rest area dengan restoran2 tempat bis antar kota transit..suasana masih gerimis. Samar terlihat 2 unit bis sedang terparkir di Taman Sari Cipali. Sementara gue masih asik selonjoran dan kali ini narik selimut. Baru narik selimut..eh ada Skyliner nya Sinar Jaya ngajak lari-larian..ah ntar juga sama-sama keluar di Cikedung..

IMG20170317195029

Jam menunjukan 20.15 saat bus berbelok di Cikedung..tepat dibelakang Sinar Jaya yang tadi. Seakan gak mau diikutin, abis bayar di Cikedung Si Skyliner langsung cabut ke arah Taman Selera, sedangkan Raya mengikuti dibelakangnya menuju Indo Rasa, sambil kres dengan sesama Raya. Penasaran dengan RM Indorasa Cikedung ini, seperti apa bangunannya, karena terakhir di cek melalui Gmaps..foto yang nongol adalah foto hutan jati 😀

IMG20170317201632Tidak jauh setelah melewati Taman Selera, sampailah di RM Indorasa Cikamurang atau Cikedung. Yak waktunya bersantap malam. Pas turun..terlihat pak kondektur menghampiri salah satu penumpang yang ternyata adalah penumpang yang tadi berseteru dan…bukan bapak yg ngeyel sebelah gue tadi. Weh..gue kirain bapak yg sama. Setelah terlibat dialog..akhirnya mereka berjabat tangan..

Ah..ngapain jadi ngliatin mereka? Makan woy..

Masuklah ke RM Indorasa. Rumah makan ‘minimalis’ dengan konsep ruangan tanpa dinding depan..sekilas mirip dengan rumah makan “ayam copot”..terdapat 1 lapak baso dan mie..2-3 baris prasmanan..tentunya 1 baris khusus untuk servis PO Raya. Dan menu servis makan di Indorasa kali ini adalah…

Menu 1

Menu 2

Makan disini memandang kearah luar..sepi banget. Seberang jalan sepertinya masih lahan terbuka..entah sawah atau kebon atau hutan. 42 AR parkir sendirian aja sampe akhirnya sebuah Handoyo masuk juga kesini. Iseng buka-buka fesbuk..ternyata di Tol Bekasi macet parah. Hmm..untung lolos tadi walaupun Cuma merambat.

IMG20170317203633

Kondektur kembali memanggil para penumpang untuk naik. Ternyata sudah ada Raya lain yang masuk. Gak liat seri nya, tapi kelihatan nya sih Exe 24.

IMG20170317205256

Meluncur kembali ke Cipali setelah berganti driver..kali ini yang dilakukan adalah menarik selimut dan tidur..

IMG20170317210117

Bangun2 ternyata udah masuk Palimanan..

IMG20170317214006

Yaudah tidur lagi

Kebangun..ah sudah Brexit rupanya. Disini kres dengan beberapa Bis dari arah timur.

IMG20170317224704

Saat berhenti di Lampu merah Prapatan Tegal, ada rombongan pariwisata dengan Bis Metropolitan. Karena refleks terbangun, saya duduk tegak dan menoleh ke arah Metropolitan. Makjegagik ada 2 orang di Metropolitan yang melihat kearah Exe 28 dan refleks ngasih salam. Entah siapa..mungkin dia kontek2an dan dikira rekannya..atau mungkin karena menurutnya sesama bismania?

Metropolitan melaju begitu saja..disusul Laju Prima. Tidur lagi..mumpung kursi ini terasa lega

IMG20170317231359

Terbangun lagi karena ada percakapan didepan..sepertinya ada yang mau turun. Dan benar aja penumpang di seat 3 ternyata turun…di Pekalongan! Buset..naik Raya turun nya di..eh bahkan belom masuk Pekalongan..masih di sekitaran Comal. Terakhir lewat..Pekalongan jalan nya masih rusak. Gak menarik..tidur lagi

IMG20170317230830

Mata kembali terbuka saat bis terasa berbelok lalu melaju kencang kembali. Lhoo sudah sampe Plelen. Ah tidur lagi aja..toh juga ntar biasanya brenti di Gemar Ikan, Kendal

Tidur lagi..bangun..kok jalan nya kayak kenal nih..kok misah jadi 1 arah?

Hah? Kota Kendal?

Brati Gemar Ikan udah lewat dong? Tadi brenti kok gak brasa ya? Kendal-Semarang-Bawen…ah curi waktu tidur lagi.

IMG20170318024341

Waktu menunjukkan jam 2.21 saat bis berenti di pinggir jalan. Driver sepertinya sedang turun dan bersiap untuk berganti. Apa jangan-jangan tadi emang gak brenti di Gemar Ikan? Gak lama perjalanan dilanjutkan kembali. Bis berbelok kanan dan masuk Tol. Yak ternyata bis tadi berenti di Krapyak. Sepanjang Tol dilalui dengan santai..hanya menyalip beberapa truk. Keluar di banyumanik dan baru disini terlihat para ‘teman sejawat’..ada Rosin dan PK yang mendahului , namun di Karangjati si PK (entah jurusan Jogja atau Solo) kembali dilewatin, sementara Rosin hanya ditempel tipis-tipis dan kembali menjauh saat ada penumpang yang turun.

Wah udah mau Bawen, bentar lagi Salatiga nih. Pak kondektur melihat kearah gue dan urung jalan kedalem karena melihat gue udah terbangun dan matanya lagi penteleng ke arah jalanan. OK melihat bangku nomer 3 kosong (bangku yang ditempatin penumpang yg turun pertama kali), pindahlah gue ke situ. Melesat si 42 ini di Kota Salatiga yang masih sunyi di pagi buta. Tapi jangan salah, pagi-pagi buta namun aktivitas truk engkel pengangkut komoditi pasar sudah bergerak. Ditambah barisan truk truk lainnya, 42 mau nggak mau sedikit bermanuver dijalur lawan arah.

IMG20170318032738

Tepat jam 3.35, 42 masuk terminal…atau pos Tingkir, Salatiga. Kranji-Salatiga hanya ditempuh kurang lebih 11 jam. Gue turun dan mengucapkan terima kasih ke kru yang bertugas saat itu. Raya kembali melaju kearah Solo. Sementara gue di depan terminal udah disambut dengan tukang ojek dan tentunya gue tolak dengan halus. Karena gue nggak bakal kemana-mana dari terminal ini..

IMG20170318033537

Karena memang tujuan gue kesini adalah…untuk…

The 17th Long Road To Java : Holiday On Duty (1)

-Menjelang makan siang..disebuah kantor-

“Bood…lu udah masukin belom mo kapan liburnya?”

Hah? Libur Bu?

“Iya..lu kan daftar tes AAAIK kan? Lo mau cuti kapan? Biar gantian..”

mm…jumat deh bu, kan saya senin tes nya

“Yaudah senin ye..”

*hmm..jumat…kemana ye?


Kembali lagi dalam seri perjalanan Long Road To Java..kali ini merupakan perjalanan ‘dadakan yang direncanakan’..

..

Aneh ye..”dadakan yang direncanakan”.

Jadi, ditempat kerja gue, seluruh karyawan diberikan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dengan ikut sertifikasi keahlian. Selain dibayarin dan dapet insentif jika lulus di beberapa ujian, untuk semua ujian setiap karyawan diberikan cuti khusus untuk belajar, dengan harapan karyawan bisa lulus dengan hasil yang baik.

Namun, di era saat ini dimana Indonesia sedang terjangkit wabah “Piknikria Tipis-Tipis”..dimana setiap ada celah sebisa mungkin dimanfaatkan untuk piknik, adanya cuti ini bisa menjadi ‘karunia’ yang luar biasa. Maka setelah gue memutuskan cuti di hari jumat, yang terjadi selanjutnya adalah gue bukan belajar tapi sibuk mikir..mau kemana jumat nanti?

Sambil minta bahan buat persiapan ujian ke HRD, gue mempertimbangkan beberapa tujuan yang memungkinkan gue untuk udah sampe dirumah sebelum Hari Minggu, jadi bisa pol istirahat+belajar buat ujian. Priangan timur jelas kali ini dicoret karena kondisi Cikampek-Purwakarta-Padalarang yang gak memungkinkan untuk perjalanan darat pake bis. Yang ada tua di jalan gue naik bis gak lewat Cipularang.

Cirebon menjadi pilihan pertama..lumayan bisa perjalanan singkat seharian dari Sabtu pagi, sore nya udah sampe dirumah. Tapi begitu ngecek reservasi tiket..waduh..musti pagi betul ini ke Pasar Senen kalo mau sampe Cirebon sebelom jam 12, karena kalo naik Cirex atau Tegal Bahari dari Bekasi, sampe Cirebon udah siang..dan bakal panas banget kalo hunting di jam-jam segitu.

Dipikir-pikirkan lagi..tiba-tiba muncul sekelebat gambar di media sosial..

2 PO “Garis Miring” yang menjadi langganan Soloan : Raya dan Gunung Mulia, merilis unit terbaru mereka yang menggunakan Legacy Sky 2 alias “Prime” buatan Laksana. Ditambah lagi ada postingan Kang Asep “Blusukan” Suherman yang pulang pagi dari Klaten ke Jakarta tapi estafet lewat Semarang..hmm..menarik sepertinya.

Maka pada “Long Road To Java” kali ini yang bertajuk…

Eh eh eh..bentar

Bukannya lu kemaren ke RM Duta ye? Kok gak diceritain?

Gini..LRTJ yg kemaren itu..Visit Watualang Year 2016..itu udah direncanakan matang2..tapi karena ada insiden kaki kejepit bangku oleh 2 penumpang ‘ndeso’, itu semua ngrusak mood untuk diangkat dalam cerita. Gak jauh beda juga kok sama LRTJ yang Rex Vulnus itu..

OK? OK? Paham ye.

Kembali lagi..

Maka pada “Long Road To Java” kali ini yang bertajuk “HOLIDAY ON DUTY” ini..perjalanan akan dilakukan ke..kali ini nggak sampe Solo..tapi cukup sampe SALATIGA..lebih tepatnya ke Estación de autobuses de Tingkir.

Emang ada apaan di Salatiga?


Persiapan

Ngintip duo garis miring yang abis ganti bodi..ternyata yang satu di garasi dan masih harus pasang kursi dan toilet. Yang satu lagi masih ngurus surat dan belum jelas apakah minggu depan udah jalan. But the show must go on. Tanpa si Prime dengan kaca belah baru nya itu, “Liburan” harus tetap berjalan. Berbeda dari biasanya yang benar-benar menggunakan “Bis Malam” yang berangkatnya udah gelap, kali ini berangkatnya agak majuan dikit..cari yang masih bisa ngeliat matahari di terminal.

Setelah pilah pilih 2 agen yang paling deket dan searah dengan stasiun..

Lah? Katanya naik bis..ngapain ke Stasiun?

Berangkatnya kan gue naik bis, tapi baliknye kita mo nyoba naik kereta yang juga masih ada mataharinya. Jadi supaya konsep intermoda bisa berjalan dengan baik, maka  gue harus mencari tempat dan rute yang paling praktis antara agen..stasiun..dan parkiran motor. Gitu..

..maka berangkat lah gue ke agen di pinggiran Bekasi, yang kebetulan deket dengan rumah gue yang lama. Lumayan si Franco diajak jalan-jalan buat nambahin kilometer. Melaju mulus dari Jatiasih..Galaxy..Kalimalang..masuk Bintara udah mulai mendung. Gas terus…masuk jalan Kalibaru..

..dan HUJAN

Yailah..mana tempat neduh sempit lagi..angin pula..basah dah. Sekitar 15 menitan ketahan hujan angin di tengah hari.

Hujan mulai berubah jadi gerimis kepyur2..nekat aja dah..udah deket ini. Ngeringin jok..gas lagi lah..dan ternyata gerimis nya masih kenceng! Bodo ah jalan terus ke Raya Bekasi…dan sampe lah di Garasi PO Raya Kranji.

IMG20170312140231

Parkir dulu disamping. Setelah seorang penumpang menitipkan barang nya untuk jasa kargo, giliran gue untuk pesen tiket. Dari kelas keberangkatan yang tersedia disitu..akhirnya gue memilih untuk mencoba si legendaris Exe 28. Mas agen segera ngambil catatan nya untuk booking exe 28 di hari jumat 17/3. Ditulislah angka 11..12…13..14..

Bentar..

Gue : Mas..disini jatahnya tengah?

Mas agen : Iya mas..1-10 jatah Pulogebang

Wadoo petrik..gak dapet hot seat dah ini. Yaudah tembak langsung no 12..yang penting pinggir deket kaca. BTW, agak parno juga sih kalo inget Exe 28 ini. Masih kebayang aja kecewanya orang tua pas dianterin ke pool Pulogadung, ternyata dapet mobil rombakan yang gak bagus bagus amat..

Selembar tiket udah ditangan..dan sementara itu Hujan udah selesai.

Ah elah..

IMG20170312143550

Biarin dah nongkrong dulu sambil ngeringin motor dan liat-liat garasi Kranji ini.

Kranji 1

Agak aman juga dalam hati liat exe 28 hari ini adalah si Nucleus custom dengan lampu Tiger. Ya udah dapet gambaran lah..Lepas si Junior Executive berangkat jam 3 Sore, giliran gue cabut dari pool…

Kereta udah aman..Bis juga aman..tinggal menunggu jumat…

Berlanjut…

Tak Kembali

Kita berdua menunggu disini
Duduk membisu dan menanti
Kapankah ini berakhir
Tak mungkin terus seperti ini

Senyum yang kulihat setiap hari
Mungkin ada gelisah yang tertutupi
Ku masih menunggu disini
Saat kudengar kau beranjak pergi

Ingin kutahan namun kucoba mengerti
Siapakah aku ini mencoba menghalangi

Hujan deras telah berhenti
Mendung berganti Matahari
Kau dapat melangkah pergi,
dari sini..dan tak kembali